Info SehatMaret 2021

Kelainan Irama Jantung

Jantung merupakan bagian tubuh yang vital sehingga kondisinya harus selalu terjaga. Apabila ada sedikit gangguan pada organ tersebut, kerja organ tubuh lain dapat terganggu.

Salah satu gangguan pada jantung adalah kelainan irama jantung atau yang dikenal dalam istilah medis sebagai aritmia. Menurut dr. Dicky Armein Hanafi, Sp.JP (K) dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dalam acara acara bincang-bincang di Siaran Radio Kesehatan pada 8 Februari lalu, kelainan ini adalah semua keadaan ketika jantung berdenyut tidak sesuai dengan seharusnya.

Denyut jantung orang normal saat dalam kondisi tidak beraktivitas adalah 50-90 kali per menit. Saat melakukan aktivitas seperti berolahraga jantung bisa berdenyut lebih dari 100 kali setiap menit. “(Denyut jantung yang) terlalu cepat tidak normal. Terlalu lambat, dalam hal ini di bawah 50 atau di bawah 40 kali per menit, juga tidak normal,” kata Dicky. “(Denyutnya) sangat tidak teratur, seperti ada jeda, kayak ada denyut tambahan, denyutnya hilang-hilang, nah itu juga kita sebut sebagai aritmia.”

Aritmia, kata Dicky, bisa terjadi karena beberapa faktor, baik yang disebabkan dari dalam tubuh maupun dari luar. Untuk yang dari dalam biasanya disebabkan oleh faktor genetik atau faktor kelainan bawaan. Adapun penyebab dari luar dapat berasal dari obat-obatan yang dikonsumsi, paparan toksin, maupun virus atau penyakit.

Dicky memaparkan bahwa salah satu faktor luar penyebab aritmia adalah sleep apnea, yaitu kondisi seseorang yang berhenti bernapas saat sedang tidur sehingga pertukaran oksigen tidak baik dan menyebabkan kekurangan oksigen di dalam darah. Sleep apnea ini kemudian membuat kerja jantung jadi meningkat sedangkan suplai oksigen ke tubuh dan jantung justru berkurang. “Semua ini bisa menjadi kelainan jantung. Aritmia juga salah satunya,” kata Dicky.

Menurut Dicky, kelainan irama jantung dapat berupa terlalu lambat dan terlalu cepat. Bila terlalu lambat dan faktor penyebabnya berasal dari luar, maka masalahnya dapat ditangani. Namun, jika memang “kabel-kabel listrik” di dalam jantungnya sudah melambat, maka upaya yang dilakukan adalah dengan memasang alat pacu jantung permanen.

Adapun aritmia yang terlalu cepat terdiri dari dua macam, yakni supraventricular untuk bagian serambi dan ventrikel aritmia atau aritmia bilik. Apabila seseorang telah mengalami aritmia di serambi jantung atau sering disebut fibrilasi atrium, maka ia memiliki risiko lima kali lebih besar untuk terkena stroke. Hal ini bisa terjadi karena saat mengalami fibrilasi atrium, maka serambi jantung tidak lagi memompa tapi bergetar sehingga aliran darah tidak mengalir dengan baik. Akibatnya, darah tersebut akan membeku dan dialirkan ke tubuh, yang salah satunya ke otak dan dapat menyumbat pembuluh darah otak hingga dapat menyebabkan orang mengalami stroke.

Aritmia yang terjadi di bilik jatung bahkan dapat berakibat lebih fatal. “Kalau terjadi di bilik atau ventrikel, ia jauh lebih berbahaya. (Orang) bisa mengalami sudden death, bisa kematian jantung mendadak, henti jantung, dan sebagainya,” kata Dicky.

Tanda-tanda umum seseorang mengalami aritmia adalah jantung berdebar, baik karena denyut jantung tidak beraturan atau karena denyut yang cepat. Selain itu, penderita aritmia juga memiliki keluhan lain, seperti pusing hingga sampai pingsan. Tanda lainnya adalah sering mengeluh cepat capai, yang bisa disebabkan karena jantung tidak memompa cukup oksigen sesuai kebutuhan. Pasien yang memiliki keluhan yang mengarah ke aritmia disarankan untuk segera ke rumah sakit agar dapat dilakukan rekam jantung menggunakan alat elektro kardiografi (EKG).

“Elektro kardiografi ini susahnya hanya rekaman sesaat. Saat timbulnya aritmia belum tentu tertangkap (oleh alat tersebut),” kata Dicky. Maka dari itu, dokter seringkali perlu memperpanjang rekaman jantung tadi sampai sehari atau lebih, yang disebut EKG 24 jam, 48 jam, dan bahkan dalam keadaan tertentu bisa sebulan.

Penyakit aritmia, kata Dicky, untuk yang bersifat genetik atau karena faktor bawaan tidak bisa dicegah tapi bisa diperbaiki atau diobati. Adapun kelainan irama jantung yang disebabkan oleh suatu penyakit komorbid, seperti hipertensi dan jantung koroner, harus terlebih dahulu diobati penyakit utamanya. “Semua penyakit penyerta tadi harus diperbaiki atau diobati dengan baik sehingga aritmianya tidak makin berat atau muncul,” katanya.*

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *