Maret 2021Resensi

Krisis Dalam Komik

Ketika pemerintah menerapkan pembatasan sosial ketat akibat pandemi Covid-19, banyak kantor tutup dan perusahaan menerapkan sistem bekerja dari rumah kepada karyawannya. Akibatnya, banyak perusahaan yang mengalami kerugian. Pemerintah kemudian mengubah kebijakan itu dengan mengizinkan perusahaan membuka kantornya tapi dengan protokol kesehaatan yang ketat.

Komik Adaptasi Kebiasaan Baru ini berpusat pada kehidupan seorang karyawan yang mulai bekerja di kantor lagi dalam sebuah sistem yang disebut “kebiasaan baru”. Panel-panel gambar menunjukkan dengan jelas apa saja yang harus dia lakukan selama di kantor, dari pemeriksaan suhu badan dengan thermogun, memakai masker, mencuci tangan, hingga penerapan pembagian waktu kerja dan pembentukan tim penanganan COVID-19. Balon-balon percakapan juga memaparkan berbagai aturan itu secara rinci.

Komik yang digambarkan oleh Reven Praga Deva dan Syayyid Quthub Syaifullah ini adalah bagian dari lima seri Komik Kesiapsiagaan Krisis Kesehatan yang diterbitkan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Empat judul lainnya adalah BanjirCOVID-19Kebakaran Hutan dan Lahan, serta Gempa dan Tsunami. Komik ini menyasar anak-anak, yang merupakan kelompok rentan pada kejadian bencana. Untuk itu mereka perlu mendapat informasi yang mudah dijangkau dan gampang dipahami. Komik menjadi media yang tepat untuk menyampaikan pesan pada kelompok ini. Penyajian dalam bentuk visual dan ringan tapi menghibur sejatinya memang sesuai untuk anak-anak tapi juga dapat dinikmati oleh orang dewasa.

Seri komik ini berpusat pada krisis kesehatan yang terjadi akibat bencana alam dan non-alam. Untuk menekan terjadinya krisis, masyarakat perlu mendapat informasi yang cukup dan referensi yang benar. Masyarakat bahkan juga didorong untuk memiliki budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana. Semua komik ini menggambarkan cara-cara pencegahan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Pada komik Banjir, misalnya, disebutkan bahwa Indonesia memiliki 5.500 sungai induk dan 600 di antaranya berpotensi banjir di musim hujan. Penyakit yang biasa timbul pada saat banjir adalah penyakit kulit, leptospirosis, diare, dan demam berdarah. Hal penting yang dapat dilakukan ketika banjir datang adalah mematikan aliran listrik agar tidak terjadi korsleting, menyiapkan air bersih di bak penampungan, menyiapkan pakaian bersih untuk mencegah penyakit akibat masalah sanitasi, dan tetap menjaga kebersihan. Kelompok rentan yang menjadi prioritas penanganan adalah anak-anak, ibu hamil, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas. 

Bila banjir sudah reda, masyarakat dapat segera membersihkan rumah dengan desinfektan unuk membunuh kuman dan memastikan perangkat elektronik sudah kering sebelum menghidupkan listrik. Orang juga perlu menggunakan sepatu bot ketika membersihkan rumah untuk melindungi kaki dari benda berbahaya, seperti paku dan pecahan kaca.

Komik Kebakaran Hutan dan Lahan, seperti judulnya, menggambarkan dampak polusi udara yang sangat berbahaya akibat kebakaran hutan, khususnya bagi kelompok rentan. Masyarakat yang terdampak akan mengalami mata perih, batuk, hingga iritasi kulit. Asap dari kebakaran hutan juga dapat memperburuk masyarakat yang telah memiliki penyakit bawaan seperti tuberkulosis dan penyakit paru kronis lainnya. Untuk mengurangi paparan asap masyarakat perlu memakai masker bila keluar rumah, banyak mengonsumsi air, dan meletakkan kain basah pada ventilasi.

Dalam komik Gempa dan Tsunami, pembaca diingatkan agar tidak panik pada saat gempa, menjaga keseimbangan tubuh, dan melindungi kepala dengan bersembunyi di bawah meja hingga gempa mereda. Setelah reda, kita dianjurkan untuk segera keluar mencari ruang terbuka  dan lapang serta menjauhi gedung tinggi dan tiang listrik. Sementara pada kejadian tsunami, masyarakat perlu melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

Pada komik COVID-19, pembaca dingatkan untuk menerapkan protokol kesehatan, yaitu, memakai masker, menghindari kerumunan, menjaga jarak, menggunakan tisu basah ketika menyentuh permukaan benda logam, rajin mencuci tangan, menerapkan etika bersin dan batuk serta tidak menyentuh apa pun saat tiba di rumah, kecuali sudah mandi dan beranti pakaian. Pembaca juga diingatkan agar tidak berkerumun dan tetap tinggal di rumah.

Kelima komik ini cukup lengkap memuat informasi dengan sederhana tapi tetap menjaga kualitasnya. Para pembaca juga diarahkan untuk tidak mudah percaya pada hoaks dan memastikan kebenaran informasi pada sumber yang tepat. Untuk membaca lebih lanjut versi digital komik ini (format PDF) pembaca dengan mengunjungi situs web https://perpustakaan.kemkes.go.id/inlislite3_kemkes/opac dan memasukkan kata kunci “Komik Kesiapsiagaan Krisis Kesehatan”. Komik ini juga tersedia dalam bentuk fisik di Perpustakaan Pusat Kementerian Kesehatan. [*]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button