Maret 2021Media Utama

Penyerta Yang Memperparah

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid. Mengatakan, kurang lebih 20-30 persen pasien Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) menyandang komorbid. Sebagian besar komorbid ini ditemukan pada pasien dengan usia di atas 30 tahun. Komorbiditas atau komorbid merupakan penyakit penyerta, baik penyakit tidak menular maupun menular langsung, yang mempengaruhi kematian.

“Yang menyebabkan angka kematian (pasien COVID-19) paling banyak terjadi pada orang dengan kondisi memiliki penyakit komorbid,” kata Nadia saat ditemui Mediakom di Kantor Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta, Kamis, 1 April lalu.

Beberapa penyakit penyerta yang dapat memperparah kondisi pasien COVID-19 antara lain adalah hipertensi, diabetes melitus, jantung, ginjal, penyakit paru obstruktif kronis, gangguan imunologi, tuberkulosis, hepatitis, dan asma. Data Kementerian Kesehatan per 26 Februari 2021 menunjukkan penyakit hipertensi sebagai komorbid terbanyak pada pasien COVID-19 yang meninggal dengan jumlah total 316 kasus. Penyakit diabetes melitus menempati urutan kedua dengan jumlah 310 kasus dan penyakit jantung pada urutan ketiga dengan 191 kasus.

Penyakit tidak menular ternyata lebih memperparah kondisi pasien COVID-19, yang bahkan hingga mengakibatkan kematian, daripada penyakit menular seperti tuberkulosis. “Penyakit-penyakit tidak menular, seperti tuberkulosis dan HIV ada tapi angkanya sangat kecil,” kata Nadia, yang juga menjabat Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan.

Belum diketahui secara pasti mengapa penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian terbanyak pada pasien COVID-19. Namun, kata Nadia, fungsi tubuh orang yang memiliki komorbid penyakit tidak menular lebih banyak terganggu. Selain itu, risiko keparahannya juga tergantung pada pola perilaku atau gaya hidup pasien. Menurut dia, mereka harus betul-betul melakukan perubahan gaya hidup atau melakukan pengendalian faktor risiko sedini mungkin agar tidak terjadi risiko yang fatal.

Berbeda dengan penyakit tidak menular, penyakit menular dapat dieliminasi dengan mengenyahkan sumber penularannya. “Kalau penyakit infeksi, sumber penularannya kita buang, dia hilang,” kata Nadia. Contohnya tuberkulosis. Ketika virusnya dibasmi, penyakitnya juga akan hilang.

Terdapat perbedaan penanganan antara pasien COVID-19 dengan komorbid dan tanpa komorbid. Nadia mengatakan, penanganan terhadap orang dengan komorbid harus lebih agresif karena angka kematiannya jauh lebih progresif. “Hari ini mungkin kondisinya baik, tapi besok tiba-tiba bisa drop,” ujarnya.

Penanganan pada masing-masing penyakit komorbid juga berbeda-beda, tergantung pada jenis komorbidnya. Secara terperinci tata cara penanganan pasien COVID-19 dengan komorbid dijabarkan dalam buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 edisi 3 dan Buku Saku Tata Laksana Protokol COVID-19 Edisi 2.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar penderita komorbid terhindar dari penyakit COVID-19, seperti mengelola penyakitnya dengan baik dengan kontrol secara teratur, menerapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), meningkatkan daya tahan tubuh, dan menerapkan perilaku hidup  bersih dan sehat. Upaya lain yang dapat dilakukan oleh penderita komorbid untuk mengurangi risiko fatal jika terinfeksi virus SARS-CoV-2 adalah dengan melakukan vaksinasi COVID-19.

Menurut Nadia, ada sedikit perubahan terkait kriteria skrining calon penerima vaksin COVID-19. Dalam aturan awal seseorang tidak boleh menerima vaksin COVID-19 ketika memiliki tekanan darah 140/90 mmHg. Selain itu, bagi penderita diabetes melitus atau kencing manis harus membawa dan menunjukkan nilai HbA1c (hemoglobin glikosilat) pada saat akan menerima vaksin. Pemeriksaan HbA1C adalah tes darah untuk mendiagnosis penyakit diabetes melitus tipe 1 dan 2.

Namun, dalam perkembangannya, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization, Ikatan Dokter Indonesia, dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia mengevaluasi kembali skrining tersebut. Berdasarkan data dan kajian-kajian baru, ternyata vaksin COVID-19 masih memberikan manfaat yang jauh lebih besar pada orang-orang yang memiliki komorbid daripada risiko pada saat vaksin ini diberikan karena kondisi komorbidnya. Menurut Nadia, sekarang terjadi perubahan besar. Meskipun tekanan darah seseorang di bawah 180/110 mmHg, yang tergolong tinggi sekali, vaksin tetap bisa diberikan.

Penderita diabetes melitus juga tidak lagi diwajibkan membawa nilai HbA1c. Mereka tetap bisa mendapatkan vaksin asalkan pada saat akan menerima vaksin dalam kondisi terkontrol dan tidak ada keluhan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *