Maret 2021Media Utama

Waspada Mutasi Virus

Pada 2 Maret lalu, tepat satu tahun pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengumumkan bahwa varian virus COVID-19, yakni B117, telah masuk ke negara kita. Setidaknya ada empat pasien yang terkonfirmasi terjangkit varian baru ini.

Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid. menyatakan keempat pasien itu kini dalam keadaan sehat dan tanpa gejala berat. Hasil pelacakan terhadap kontak erat dan keluarga juga menunjukkan tidak ada yang memiliki gejala yang mengarah ke COVID-19.

Nadia juga menegaskan bahwa vaksin CoronaVac bikinan perusahaan biofarma Cina, Sinovac, yang kini digunakan dalam program vaksinasi massal masih sangat efektif dalam menghadapi varian virus tersebut. “Sampai saat ini belum ada penelitian ataupun bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin yang telah diproduksi dan telah digunakan di berbagai belahan dunia ini tidak bisa melindungi kita dari virus varian baru ini. Vaksin yang digunakan dalam upaya kita melakukan penanggulangan pandemi covid 19 masih sangat efektif,” kata Nadia, seperti dikutip Siaran Radio Kesehatan SRK pada 8 Maret lalu.

Mutasi Virus

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan dr. Slamet, MHP dalam acara bincang-bincang Kementerian Kesehatan di KBR pada 9 Maret lalu menyampaikan bahwa mutasi virus merupakan hal alamiah dalam perjalanan kehidupan virus, termasuk yang terjadi pada virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Virus bermutasi untuk menyesuaikan diri, baik terhadap lingkungan, obat, dan lainnya, guna bertahan hidup. Efek mutasi tersebut bisa membuat virus hancur, bertahan, atau membuat daya serangnya menjadi lebih tinggi.

Varian B117, kata Slamet, mengalami mutasi pada spike atau tanduk virus. Tanduk ini berfungsi untuk menempel pada reseptor di tubuh manusia, seperti di paru-paru, jantung, dan ginjal. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tanduk B117 lebih mudah melekat pada reseptor, sehingga bersifat lebih cepat menular tapi bukan berarti lebih berbahaya.

Profesor Tjandra Yoga Aditama juga menyatakan bahwa proses mutasi ini memang alamiah pada virus. Mutasi ini memang banyak terjadi dan jumlahnya bisa ratusan maupun ribuan sehingga penelitian lebih lanjut perlu terus dilakukan terhadap jenis-jenis dari mutasi ini secara global dan kriterianya ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Kita perlu waspada, mana yang menimbulkan dampak penting, mana yang tidak. Oleh karena itu, WHO membuat dua kriteria, variant of concern dan varian of interest. Yang paling perlu mendapat kewaspadaan adalah variant of concern,” kata Tjandra kepada Mediakom di Jakarta, 23 Maret lalu.

Menurut WHO, suatu mutasi akan dikategorikan sebagai variant of concern (VOI) apabila ia diperkirakan mempengaruhi penularan, diagnostik, terapeutik, atau hilangnya kekebalan; menyebabkan peningkatan kasus; dan prevalensi atau ekspansi terbatas di suatu negara. Adapun variant of concern (VOC) adalah jika ada bukti ia berdampak pada gangguan yang meluas terhadap pasien, resistensi yang meningkat, penurunan antibodi yang signifikan, dan berkurangnya daya perlindungan vaksin. Ciri VOC termasuk adanya bukti peningkatan penularan dan keparahan penyakit. Penentuan VOC dan VOI ini dilakukan sesudah penilaian mendalam oleh WHO dengan berkonsultasi dengan WHO SARS-CoV-2 Virus Evolution Working Group.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *