April 2021Resensi

Konspirasi, Virus, Dan Dokter Bernama Ata

Setelah berkhotbah pada perayaan Hari Orang Miskin Sedunia dari balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, Paus Yohanes Paulus III nyaris tewas ketika mencicipi tortellini beracun. Dunia gempar. Siapa yang menginginkan kematian paus?

Belasan ribu kilometer dari Vatikan, tepatnya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, tiga peternak babi meninggal secara misterius. Peristiwa itu mungkin tak akan pernah tercatat kalau sebuah koran lokal tidak memberitakannya. Kasus itu juga mungkin akan menguap begitu saja bila Permata Pertiwi, dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia, tidak membaca beritanya ketika sedang menghadiri seminar di Atambua. Naluri epidemiologi sang dokter mendorongnya untuk mengecek kasus ini tapi hanya bertemu jalan buntu tapi naluri detektifnya membawa Permata ke dalam sebuah petualangan di tengah sebuah konspirasi besar yang menyasar paus dan hendak mengubah tatanan dunia.

Novel terbaru Akmal Nasery Basral ini adalah thriller tentang sebuah dunia masa depan setelah masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) berlalu. Dengan latar tahun 2026, Akmal meramu konspirasi, petualangan, kisah detektif, wabah virus baru, dan cinta yang bermasalah dalam satu wadah. Kisahnya ramai dengan banyak tokoh dan beberapa alur yang bersilangan di sana-sini. Namun, bila Anda pernah membaca novel The Da Vinci Code atau Angels & Demons karya Dan Brown, Anda akan segera menemukan suatu pola yang serupa minus teka-teki simbolik yang menjadi andalan simbolog Robert Langdon, tokoh utamanya.

Tokoh utama Disorder adalah Permata Pertiwi, yang biasa disapa Ata. Bila Robert Langdon ahli simbol, Ata ahli epidemiologi lulusan Prancis yang entah bagaimana punya naluri seorang detektif. Pelacakan Ata terhadap kasus kematian di Belu menyeretnya ke perjalanan jauh melintasi benua hingga ke Cina. Satu-satunya motif petualangannya yang eksplisit dia sebut adalah dorongan untuk melacak asal-usul virus yang telah membunuh tiga peternak di Belu. Virus itu adalah Genotip 4 Eurasia Avian-like H1N1, strain baru H1N1 penyebab flu babi. Lebih buruk lagi, strain ini bersilangan dengan virus zoonosis lain dan menghasilkan strain Swine Origin Influenza Virus 2026 (SOIV-26).

Pandemi SOIV-26 pun merebak. “Jika kita terlambat, ribuan orang akan mati di sini. Infeksi akan menyebar cepat dan menewaskan ratusan ribu lainnya secara nasional, mungkin tembus satu juta jiwa. Jauh lebih parah dibandingkan COVID-19 tahun 2020,” kata Ata menggambarkan ancaman pandemi ini dan alasannya melacak patient zero, pasien pertama yang terinfeksi SOIV-26.

Meskipun dunia terancam pandemi, novel ini kurang rinci menggambarkan bagaimana pemerintah berbagai negara menanggapinya. Tak tampak kesibukan para ilmuwan yang berjuang untuk mencegah penularannya. Tak terlihat kepanikan masyarakat, seperti terjadi dalam kasus wabah H1N1 pada 2009. Yang kita saksikan hanya sepak terjang Ata yang berkeliaran ke mana-mana mencoba memecahkan misteri virus ini.

Dalam petualangannya, Ata bersinggungan dengan banyak orang. Sebagian dari mereka memang punya hubungan dengan Ata, seperti Alex Lauw, pemuda peranakan Cina bekas pacar Ata; Tobias Shochet, guru besar epidemiologi dari Universitas Lyon, Prancis yang dulu membimbing disertasi Ata di kampus tersebut; dan pula Valerie Sumowinoto, jurnalis kanal televisi TV 21. Tapi, sebagian lainnya misterius, seperti Putri Giok Merah.

Pelan-pelan kemudian terungkap bahwa semua keributan ini adalah bagian dari sebuah konspirasi besar yang dirancang The Global Order of Interconfessionalism for A Better World (TGO), kelompok persaudaraan rahasia yang hendak mengubah tatanan dunia. Kelompok ini bermarkas di London, Inggris dan dikendalikan oleh Majelis Tinggi TGO, yang terdiri dari 12 Grand Master. Semuanya adalah para tokoh agama dan pakar beragam ilmu dari berbagai penjuru dunia. Mereka dipimpin oleh Super Grand Master, seorang tokoh yang lebih misterius lagi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *