April 2021Info Sehat

Mengenali Rabun Jauh

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dengan 39 juta di antaranya mengalami kebutaan, 124 juta dengan low vision, dan 153 juta mengalami kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 menunjukkan bahwa gangguan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab gangguan penglihatan terbanyak di seluruh dunia (48,99 persen) dan penyebab kebutaan terbanyak kedua (20,26 persen) setelah karatak (34,47 persen).

Dalam buku Ilmu Penyakit Mata edisi 5 tahun 2014, Ilyas menjelaskan kelainan refraksi sebagai keadaan bayangan benda jatuh tidak tepat pada retina sehingga menyebabkan keluhan kesulitan atau kabur saat melihat pada jarak tertentu. Panjang bola mata (lebih panjang atau lebih pendek), perubahan bentuk kornea, atau penuaan lensa menyebabkan kelainan pembiasan sinar.

Ada beberapa jenis gangguan refraksi, seperti miopia (rabun jauh), hipermetropi (rabun dekat), astigmatisme (silinder), dan presbiopia (mata tua). Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh adalah jenis gangguan refraksi penyebab utama hilangnya penglihatan di seluruh dunia. Prevalensi rabun jauh bervariasi menurut negara dan kelompok etnis. Di beberapa populasi Asia prevalensi rabun jauh mencapai 70-90 persen dan terus meningkat.

Rabun jauh terjadi karena pertumbuhan bola mata terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu besar. Dengan kata lain, jarak kornea dan retina terlalu jauh. Mata mempunyai kekuatan pembiasan yang berlebih saat sinar yang masuk dibiaskan atau jatuh di depan retina (bintik kuning). Menurut derajat beratnya rabun jauh dibedakan menjadi miopia ringan (1-3 dioptri), sedang (3-6 dioptri), dan berat (lebih dari 6 dioptri).

Penyebab rabun jauh belum diketahui pasti tapi diperkirakan terjadi akibat kombinasi interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan. Pan CW et al (2012) menyebutkan bahwa anak dengan orang tua yang mengalami rabun jauh memiliki risiko lebih besar untuk menderita rabun jauh daripada anak dari orang tua yang tidak menderita rabun jauh.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rabun jauh dipengaruhi oleh daya akomodasi mata yang berlebihan akibat kebiasaan dan aktivitas melihat dekat dengan durasi yang lama, seperti membaca, menulis, menonton televisi serta menggunakan komputer atau perangkat digital lainnya. Adapun Wulansari dkk (2018) melaporkan bahwa intensitas cahaya lebih tinggi di luar ruangan mengakibatkan ketajaman penglihatan yang lebih baik. Paparan terhadap cahaya yang suram dan terlalu sering akan menjadi faktor risiko terjadinya rabun jauh.

Orang yang mengalami rabun jauh justru dapat melihat objek dekat dengan jelas. Rabun jauh yang tidak dikoreksi sering menimbulkan keluhan sakit kepala bila melihat jauh atau lama yang disertai mata lelah, juling, dan celah kelopak mata sempit. Seseorang dengan rabun jauh memiliki kebiasaan menyipitkan matanya untuk mendapat efek lubang kecil saat berusaha melihat jauh.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *