April 2021Kilas Internasional

Menimbang Pemberian Vaksin Ketiga COVID-19

Perusahaan-perusahaan biofarma sedang meneliti kemungkinan pemberian vaksin dosis ketiga untuk meningkatkan efektivitas vaksin. Pemerintah Cina, misalnya. telah memberikan respons atas keraguan akan efektivitas vaksin Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) buatan negerinya. Menurut Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina George Gao, lembaganya sedang mempersiapkan sejumlah opsi untuk meningkatkan efektivitas vaksin tersebut.

“Cina secara resmi mempertimbangkan pilihan untuk mengubah vaksinnya untuk memecahkan masalah mengenai kemanjuran vaksin yang tidak tinggi,” ujar Gao, sebagaimana dikutip oleh Washington Post pada 11 April lalu.

Vaksin produksi China National Pharmaceutical Group (Sinopharm) dan Sinovac Biotech Ltd. itu menggunakan metode konvensional dengan memanfaatkan virus yang tidak aktif sehingga dapat menghasilkan antibodi. Adapun sejumlah perusahaan Amerika Serikat dan Eropa menggunakan metode baru yang dikenal dengan messenger ribonucleic acid (mRNA) agar dapat menciptakan kekebalan terhadap virus SARS CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Perusahaan farmasi Cina kini berlomba-lomba untuk mengikuti teknologi pembuatan vaksin dengan metode terbaru tersebut. Menurut Washington Post, beberapa perusahaan Cina sedang memulai uji coba dan para eksekutif mengatakan mungkin ada vaksin berbasis mRNA China di awal tahun ini.

Menurut Gao, negerinya juga mempertimbangkan untuk menyesuaikan dosis atau menambah jumlah dosis serta mengembangkan vaksin dengan teknologi yang berbeda. Pilihan lain adalah mencampur vaksin yang dibuat dengan teknologi berbeda. Gao mengatakan, Cina perlu mengembangkan vaksin dengan metode mRNA dengan menggunakan teknologi genetik revolusioner yang telah digunakan negara-negara Barat.

Menurut pejabat eksekutif Sinopharm, mereka sedang menilai apakah akan memberikan suntikan vaksin ketiga sebagai bagian dari prosedur pemberian standar vaksin mereka. Washington Post melaporkan bahwa perusahaan tersebut akan memulai uji klinis untuk vaksiniasi ketiga.

Setelah muncul sejumlah laporan antibodi yang rendah pada beberapa orang yang sudah mendapat vaksin bikinan Sinopharm, Uni Emirat Arat melakukan eksperimen dengan memberikan suntikan ketiga. Mantan Penasihat Senior WHO SEARO Profesor Tjandra Yoga membenarkan soal eksprimen ini.

Dalam keterangan tertulisnya, Tjandra menyebutkan bahwa saat ini terdapat sejumlah perusahaan yang tengah mengkaji pemberian dosis ketiga vaksin COVID-19 sebagai upaya meningkatkan efektivitas kerja. Menurut mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan ini, pada akhir Februari lalu, Pfizer-BioNTech sudah mengumumkan akan memulai penelitian untuk pemberian dosis ketiga vaksin mereka dalam waktu sebulan.

“Kalau nanti dosis ketiga ternyata tidak memberi hasil yang memuaskan, maka Pfizer juga sudah memulai proses kemungkinan memodifikasi dan membuat vaksin baru untuk menangani perkembangan varian baru,” kata Tjandra, yang juga mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan.

Tjandra menambahkan bahwa produsen vaksin Moderna juga mengkaji pemberian dosis ketiga dengan tiga pendekatan, yakni menggunakan vaksin lama tetapi dengan dosis yang lebih rendah, menggunakan vaksin yang sudah dimodifikasi, dan memberikan kombinasi vaksin lama dengan vaksin yang sudah dimodifikasi. Penelitian awal vaksin Moderna menunjukkan bahwa varian baru B.1.1.7 tidak mempengaruhi  kadar antibodi netralisasi sesudah vaksinasi. Di sisi lain, pada varian B.1.351 ternyata terdapat penurunan kadar antibodi netralisasi sesudah divaksin, walau kadarnya masih memadai untuk memberikan proteksi.

Penulis: Didit Tri Kertapati 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *