April 2021Kolom

Tantangan Penangan Pasien Kronis Ganda

Keadaan penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal ini menyebabkan biaya pelayanan kesehatan menjadi mahal karena pengobatannya seumur hidup. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melaporkan bahwa penyakit katastropik terbanyak adalah penyakit tidak menular. Kurang lebih 21 persen biaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diperuntukkan untuk penyakit katastropik.

Sayangnya, tidak ada angka yang menunjukkan pembiayaan secara khusus terhadap penderita multiple chronic condition (MCC) atau keadaan kronis ganda (KKG). Bayangkan, kalau satu penyakit kronis saja pengobatannya sudah begitu sulit, lama, dan mahal, maka penderita beberapa penyakit sekaligus akan menanggung biaya yang jauh lebih besar.

Keadaan Kronis Ganda

Banyak sekali definisi mengenai multiple chronic condition, seperti komorbid, multimorbiditypolychronicity, chronic conditions, chronic diseases, dan chronic disease cluster. Definisi KKG yang sederhana, menurut Hajat (2019), adalah adanya dua atau lebih penyakit kronis yang diderita oleh seseorang.

Dua atau lebih penyakit tidak menular dapat saling menyebabkan gejala pada seseorang. Seseorang dapat menderita penyakit hipertensi lalu menderita DM atau sebaliknya. Orang juga bisa menderita DM sekaligus tuberkulosis (TB). Inilah yang disebut sebagai keadaan kronis ganda.

Perawatan pasien dalam keadaan kronis ganda tidak mudah karena memerlukan banyak keahlian dan kolaborasi beberapa dokter atau bahkan rumah sakit. Bila seseorang menderita sakit jantung, ia bisa dirujuk ke unit kardiologi. Namun, kalau dia juga mengalami stroke, maka ada kemungkinan dia harus pula dirujuk ke unit neurologi. Kolaborasi harus menjamin adanya komunikasi antar-dokter secara real time sehingga obat yang diberikan tidak banyak tetapi manjur sehingga polifarmasi dapat dihindari.

Penyakit KKG umumnya adalah penyakit kardiovaskular, stroke dengan depresi, TB dengan diabetes, dan HIV/AIDS dengan kardiovaskular (Hajat, 2019). Keadaan kronis yang paling banyak menyumbang pada beban penyakit (disease burden) secara global adalah penyakit jantung iskemik, kanker paru, stroke, depresi, diabetes, serta nyeri punggung dan leher. Lima faktor risiko besar penyebab KKG adalah tekanan darah tinggi, tingginya gula darah puasa, merokok, total kolesterol yang tinggi, dan indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi. Menurut Marengoni dkk (2011), satu di antara tiga orang dewasa menderita lebih dari satu PTM atau KKG yang akan meningkatkan biaya pelayanan kesehatan

Kondisi Indonesia

Data tentang KKG di Indonesia belum ada meskipun kasusnya sudah banyak. Perlu ada persamaan persepsi mengenai KKG, yang umumnya didominasi penyakit tidak menular.

Di Indonesia sudah banyak rumah sakit yang memberikan pelayanan kolaboratif untuk pasien dengan dua penyakit kronis atau lebih, terutama di rumah sakit pendidikan, yang mungkin dapat ditiru rumah sakit lain. Namun, distribusi tenaga kesehatan belum merata. Masih ada rumah sakit yang belum memenuhi standar tenaga kesehatan. Misalnya, masih ada 49 rumah sakit umum daerah yang belum mempunyai empat dokter spesialis dasar. Keadaan ini perlu diperbaiki.

Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan fasilitas kesehatan primer lain harus juga diberi kemampuan untuk memberikan pelayanan yang memadai. Peran mereka sangat penting karena dapat melakukan deteksi dini dan melakukan kunjungan rumah serta pelayanan kontrol (maintenance). Kemampuan deteksi dini sudah ada di puskesmas untuk beberapa penyakit tidak menular dan menular.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *