April 2021Media Utama

Tetap Sibuk Di Wisma Atlet

Tak ada yang berubah dari kegiatan para tenaga kesehatan dan relawan di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, selama bulan Ramadan. Mereka tetap sibuk bekerja melayani para pasien yang keluar-masuk rumah sakit. Sebagian dari mereka sudah pernah berpuasa di tengah pandemi COVID-19 pada tahun lalu.

Sunarto dan Nida Fadhillah, misalnya, sudah mengalami dua kali Ramadan di gedung itu. Sunarto adalah ahli teknologi laboratorium medis dan koordinator laboratorium pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dan patologi klinik. Nida adalah perawat yang bertanggung jawab di high care unit (HCU) dan unit perawatan intensif (ICU) di Lantai 3 Tower 6 Wisma Atlet.

Wisma Atlet, yang dirancang sebagai tempat menginap para tamu pada perhelatan Asian Games 2018, diubah menjadi rumah sakit lapangan pada 23 Maret 2020. Gedung itu berfungsi sebagai rumah sakit karantina sehingga seluruh fasilitas di dalamnya termasuk dalam zonasi kekarantinaan dan dinyatakan sebagai zona kuning. Akses ke wilayah rumah sakit ini dibatasi dengan ketat. Sejak beroperasi hingga 16 April 2021, rumah sakit ini sudah melayani 79.554 pasien.

Sunarto dan Nida menilai bahwa manajemen waktu saat bekerja di tengah Ramadan tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. “Sekarang sudah mulai tertata untuk pengambilan alat pelindung diri, sudah ada jamnya, tidak antre, dan (waktunya) tidak bertabrakan dengan buka puasa atau pun sahur,” kata Nida.

Mereka juga punya lebih banyak kesempatan untuk sahur, berbuka puasa, dan beribadah. “Tidak seperti tahun lalu, (kami) tidak bisa melakukan salat tarawih. Di sini sekarang alhamdulillah melonggarkan waktu untuk salat tarawih. Jadi, teman-teman yang tidak jaga (malam) bisa salat tarawih dan kadang ada juga yang ikut tadarus (Al-Quran),” kata Sunarto.

Sedikit perbedaan dari tahun lalu, kata Sunarto, hanya pada aktivitas fisik. Bila orang biasanya jogging atau olahraga sore, sekarang cukup jalan santai. “Kebanyakan malah memilih istirahat,” kata Sunarto.

Dibanding tahun lalu, hanya pengaturan giliran kerja yang berubah sehingga tidak mengganggu waktu sahur dan beribadah. “Jadwal shift-nya sama, cuma yang membedakan itu jamnya,” kata Nida.

“Saya bertugas di unit rekam medis. Dulu shift pagi, misalnya, dari pukul 6 pagi sampai 2 siang, sekarang menjadi pukul 3 pagi sampai 11 siang,”  kata Akhlam Rindu Ardia, ketua tim rekam medis yang bertugas di instalasi gawat darurat.

Hari libur adalah kesempatan berharga bagi para relawan untuk mengembangkan potensinya masing-masing, meskipun kegiatannya kebanyakan tetap dilakukan di lingkungan rumah sakit tersebut. Ini karena untuk mendapatkan izin keluar, mereka harus melewati prosedur yang ketat.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button