Mei 2021Profil

Sang Guru Besar Masker Kesehatan

Saat pandemi COVID-19 ini tentu masker menjadi alat utama dalam menjalankan protokol kesehatan. Ia merekayasa masker kombinasi karbon aktif yang dapat mengurangi paparan bahan beracun.

Putra desa kelahiran Nganjuk 57 tahun lalu ini diangkat menjadi Guru Besar atau Profesor dalam Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan pada 27 April 2021 lalu. Prof. Dr. Khayan, SKM, M.Kes, begitu namanya dipanggil saat dilantik oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin di Gedung Kemenkes, Jakarta.

21 Tahun lamanya Prof Khayan mengabdi di dunia pendidikan. Karirnya dimulai sebagai dosen di Poltekkes Pontianak tahun 2000. Khayan pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Pontianan, dan 2 kali berturut-turut menjadi Direktur Poltekkes Pontianak dari tahun 2010 hingga 2018.  

Fokus penelitian Prof Khayan yaitu efektivitas jenis masker dengan merekayasa masker kombinasi karbon aktif, spound bound dan meltblown yang dapat mengurangi paparan bahan beracun COx, NOx dan SOx yang dapat menimbulkan penyakit sistem pernapasan dan kardiovaskuler. Prof Khayan mengangkat upaya kesehatan lingkungan untuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan topik rekayasa Alat Pelindung Diri (APD) masker pernapasan dalam upaya pengendalian pencemaran udara dan kesehatan masyarakat. 

“Masker kombinasi ini sangat efektif dalam menyaring dan mengabsorbsi paparan gas COx, NOx dan SOx baik pada udara ambien (gas buang) dan kesehatan masyarakat,” kata Prof Khayan dalam orasi ilmiahnya. 

Khayan menjelaskan upaya kesehatan lingkungan sangat penting untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan fisik, air, tanah dan udara serta gangguan kesehatan masyarakat. Di antara upaya penyehatan lingkungan yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan fisik yaitu penyehatan air, tanah dan udara. Sedangkan penyehatan udara dapat dilakukan secara terpadu dengan rekayasa teknis, non teknis dan sosial. 

“Upaya rekayasa sosial dapat dilakukan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Germas mendorong masyarakat menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan menggunakan masker kombinasi bahan karbon aktif, spound bound dan meltblown,” ungkapnya.

Dukungan Orang Terdekat

Orangtua merupakan sosok yang paling berperan penting dalam karirnya di dunia pendidikan. Tentu saja doa dan usaha dari orangtua membantu ia untuk tetap menjalankan amanah sebagai seorang pendidik. 

Selain itu, bimbingan dan motivasi para dosen/guru besar dan perguruan tinggi tempat ia menimba Ilmu juga menjadi salah satu pendukung ia mantab berkarir. 

Setelah menjadi guru besar, Khayan bercita-cita dapat mengembangkan keilmuan kesehatan lingkungan melalui pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat. Menulis atau menyusun buku-buku kesehatan khususnya kesehatan lingkungan dan mengembangkan organisasi profesi yang modern, professional dan pengabdian. 

“Secara institusi, saya ingin mengembangkan program studi berbasis kebutuhan masyarakat baik nasional maupun global, meningkatkan SDM, sarana dan prasana pengajaran dan pengelolaan keuangan yang efisien, efektif dan produktif,” harapnya.

Mengapa mau menjadi dosen? Pertanyaan ini yang menjadi latar belakang Khayan ingin terus belajar dan mengajar. Sebelum menjadi dosen, ia pernah sebagai tenaga kesehatan di perbatasan sebagai pelaksana Hygiene sanitasi Sanitasi (HS) di Puskesmas Sambas. Kemudian melanjutkan pendidikan, lulus D3 di Akademi Penilik Kesehatan Tehnologi Sanitasi (APKTS) atau Jurusan Kesling Poltekkes Padang tahun 1991. Selanjutnya, bekerja sebagai staf pengajar (dosen) di SPPH (Sekolah Pembantu Penilik Hygiene) Depkes Pontianak.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button