Mei 2021Resensi

Tentang Sutan Pane Dan Buku Bajakan

Novel Selamat Tinggal ini menceritakan kisah Sintong Tinggal, seorang pemuda dari Medan yang berkuliah di sebuah kampus ternama di Depok. Ia mengambil jurusan sastra, yang sesuai dengan keahliannya dalam menulis. Ia menjadi mahasiswa abadi. Sudah kuliah selama enam tahun tapi belum juga lulus. Ia enggan menyelesaikan skripsi karena patah hati. Semangatnya kembali tumbuh karena Pak Dekan sudah tidak bisa memberi tambahan waktu lagi dan langsung menjadi pembimbing skripsinya. Tak hanya berbaik hati menjadi menjadi mendampingi mahasiswa berbakat, tema skripsi Sintong juga membuat Pak Dekan bersemangat membimbingnya.

Pak Dekan menyadari potensi Sintong dalam menulis. Sintong pernah menjadi redaktur di majalah kampus dan juga menulis opini isu-isu sosial yang sedang muncul di masyarakat. Cerita pendek, esai, artikel, dan resensinya menakjubkan. Tulisannya muncul di surat kabar besar. Di usia yang muda, Sintong pernah menang banyak lomba, dan diundang di acara sastra terkemuka. Sintong adalah mahasiswa yang punya gairah, marwah seorang penulis. Itulah alasan Pak Dekan mau memberi tambahan waktu agar Sintong bisa segera menyelesaikan kuliahnya.

Tema skripsi Sintong adalah tentang Sutan Pane, seorang penulis besar di tahun 1960-an tapi terlupakan. Tulisannya sangat terkenal pada zamannya karena menginspirasi dan tidak memihak. Pane berani mengkritik pemerintah maupun organisasi besar, termasuk Partai Komunis Indonesia. Pada 1965, sebelum pemberontakan PKI, Sutan Pane menghilang begitu saja. Lenyap seperti ditelan bumi. Tidak menulis lagi. Berhenti total.

Ide penulisan skripsi tentang Sutan Pane berawal ketika Sintong Tinggal tidak sengaja menemukan buku karya sastrawan tersebut di tumpukan buku bajakan di Pasar Senen. Buku itu sangat langka karena merupakan satu dari mahakarya Sutan Pane. “Dia terus menulis dengan netral, objektif, karena dia mencintai negeri ini. Dia tidak perlu berpikir dua kali untuk mengkritik kelompok mana pun. Baginya, kekuasaan selalu temporer. Firaun sekalipun, yang mengaku Tuhan, tetap tumbang tapi sebuah bangsa harus dirawat ratusan tahun kemudian agar rakyatnya sejahtera, hukum dan keadilan ditegakkan.” (hlm. 137)

Dalam perjalanan Sintong mencari Sutan Pane, ia seperti menemukan kembali dirinya. Ia berani meninggalkan toko buku bajakan. Bukankah menjual buku bajakan sama dengan mencuri?

Novel ini mengisahkan pula romansa antara Sintong dan Jess, anak orang kaya yang hasil kekayaan orang tuanya berasal dari menjual barang-barang “KW”. Sintong bertemu Jess, mahasiswi fakultas ekonomi, di toko buku bajakannya untuk membeli novel bajakan. Jess jatuh hati pada Sintong yang “keren” karena tulisannya terbit di koran besar dan sudah mendaki 14 gunung. Di atas segalanya, Jess kagum karena Sintong memiliki idealisme.  Namun, cinta Jess tak berbalas karena hati Sintong tak bisa pindah dari Mawar, teman sekolah menengah atasnya di Medan.

Mawar adalah masa lalu lalu Sintong. Gadis itu telah membuat Singtong patah hati setelah Mawar memilih Letnan Binsar, pariban Mawar yang gagah dan kaya. Namun, hidup Mawar merana. Ia ternyata anggota sindikat kejahatan bersama Binsar dan masuk penjara karena menjual obat palsu. Hal ini kemudian menyatukan lagi hati Mawar dan Sintong.   

Toko buku bajakan yang dikelola Sintong adalah milik Pakde Maman. Sang paman memiliki beberapa toko buku bajakan dan belakangan merambah ke penjualan buku bajakan secara daring melalui pasar digital atau marketplace. Omset penjualan buku bajakannya naik tajam tapi sanubari Sintong semakin tak tenang. Akhirnya Sintong memutuskan untuk berhenti mengelola toko meskipun dikecam oleh keluarga Pakde Maman, yang merasa telah membiayai kuliah dan kehidupan Sintong selama merantau. Sintong tidak membantahnya dan berjanji akan mengembalikan uang yang telah dikeluarkan untuknya.

Perjalanan Sintong menulis skripsi tentang Sutan Pane terus berjalan. Dia berusaha untuk menemukan alasan mengapa penulis besar itu berhenti menulis dan menghilang tiba-tiba. Akhirnya ia menemukan kunci jawabannya dari seseorang yang membaca tulisannya di koran. Sintong kini memahami mengapa Sutan Pane menghilang.

Selamat Tinggal adalah novel yang layak dibaca. Alurnya mengalir dan kaya dengan pesan moral, terutama menggugat maraknya bisnis buku bajakan. Sebagai pengarang yang banyak melahirkan novel, Tere Liye telah menciptakan karakter tokoh dalam novel ini cukup meyakinkan, termasuk perkembangan karakter dan pertentangan batin para tokoh.

  • Judul: Selamat Tinggal
  • Penulis: Tere Liye dan Sarippudin
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Terbit: Cetakan Kelima, Maret 2021
  • Tebal: 360 halaman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
Close
Back to top button