Juni 2021Serba Serbi

Cara Merawat Buku

Pernah melihat buku hancur dimakan rayap, berjamur atau melengkung dan warna kertas buku berubah? Ya, begitulah buku-buku koleksi yang bertahun-tahun kita jaga malah hancur begitu saja. Padahal, bisa jadi koleksi buku kita merupakan koleksi langka yang mungkin sudah tidak diterbitkan lagi. Sungguh sangat disayangkan. Kondisi seperti itu bisa terjadi karena kita tidak merawat buku dengan baik dan benar. 

Tapi jangan khawatir. Mulatsih Susilorini, Plt. Kepala Pusat Preservasi dan Alih Media Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI, punya cara yang mudah untuk menjaga dan merawat buku agar awet. Yuk kita simak!  

Untuk buku-buku yang tebal, harus disimpan dengan posisi berdiri dengan penopang. Sementara untuk buku lebar atau panjang sebaiknya direbahkan. 

“Menyimpan buku harus disesuaikan dengan kondisi buku,” kata perempuan yang biasa disapa Rini ini kepada Mediakom pada 9 Juni 2021.

Selain itu, lanjut Rini, disarankan untuk menyimpan buku-buku di rak terbuka agar sirkulasi udaranya terjaga. Bila disimpan di lemari tertutup, maka harus sering dibuka. Tak hanya itu, jIka buku diletakkan di rak terbuka, maka sebaiknya diberikan kamper. Bahan herbal seperti akar wangi dan cengkeh yang dibungkus kain juga bisa dijadikan pengganti kamper.

“Sementara untuk lemari tertutup dapat diberi silica gel untuk menyerap kelembaban,” lanjutnya. 

Rak atau lemari buku sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak mudah rapuh dan dimakan rayap. Selain itu, hindari menempelkan rak buku langsung ke dinding dan lantai. Buku sebaiknya disimpan pada temperatur suhu ruangan dengan kelembaban 40% – 50%. Bila lebih dari 60%, maka akan menimbulkan jamur dan noda-noda serta menyebabkan kertas buku akan berubah warna menjadi kuning karena kertas yang banyak beredar saat ini bersifat asam.

“Rak buku jangan sampai menempel ke dinding dan tidak tertutup sampai lantai. Maka raknya harus ada kaki untuk menghindari bila ada air atau lembab,” ujarnya. 

Rini mengatakan sesekali buku juga harus dibersihkan dari debu dengan menggunakan kuas atau penyedot debu (vacum cleaner) yang lembut. Memberikan buku sebaiknya tidak menggunakan kemoceng. 

“Membersihkan buku berdebu biasanya dengan kemoceng. Ini tidak boleh dilakukan lagi karena kemoceng memindahkan debu dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Kita bisa menggunakan kuas. Perlahan bersihkan halaman demi halaman atau dengan vacuum cleaner yang kuasnya lembut,” jelas Rini.

Dan terakhir, lanjut Rini, agar tidak lupa terkena sinar matahari sehingga penempatan rak buku disarankan di dekat lokasi yang memiliki sirkulasi udara yang baik.

 “Gunakan vertical blind atau gorden. Untuk ruang perpustakaan yang ideal menggunakan automatic lamp,” tambah Rini.

Agar rapi, biasanya buku diberi sampil plastik. Untuk hal ini, Rini tidak menyarankan. Bila ingin tetap menyampulkan gunakan plastik bebas asam.

“Buku sebaiknya tidak usah disampul karena justru akan merusak dimana sampul membuat buku menjadi panas. Gunakan sampul plastik yang bebas asam. Di Indonesia belum ada jadi harus impor dan harganya lumayan mahal,” jelas Rini. 

Selain biota, menurut Rini adanya limbah makanan yang tersisa di ruangan koleksi juga dapat menjadi pemicu hadirnya faktor biota. 

“Biasanya ada pemustaka yang datang dengan tangan yang yang berkeringat, kotor. Pemustakaan dan pustakawan tidak makan dan minum di ruang penyimpanan, membaca jangan sambil mengemil karena remah-remah bisa jatuh ke buku dan mendatangkan serangga,” kata Rini.

Bilamana di rak buku ditemukan serangga, segera

  1. Angkat atau pindahkan buku dari rak sembari dibersihkan
  2. Bersihkan lemari atau rak  bila ditemukan serangga bisa disemprot dengan cairan pembunuh serangga atau rayap
  3. Dibiarkan sebentar, bila sudah kering lemari atau rak dibersihkan lagi dan berikan kamper atau silica gel
  4. Susun kembali buku dalam lemari atau rak sesuai dengan karakter dan jenis buku

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *