Arsip e-MagazineJuni 2021Kilas Internasional

Istilah Baru Varian Virus COVID-19

Organisasi Kesehatan Dunia memperkenalkan istilah baru untuk nama-nama varian virus COVID-19 berdasarkan alfabet Yunani. Agar mudah diingat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan penggunaan istilah baru untuk penyebutan varian-varian hasil mutasi SARS CoV-2, virus penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), pada 31 Mei lalu. Organisasi itu menggunakan alfabet Yunani untuk penamaannya agar memudahkan masyarakat umum mengenali jenis-jenis varian virus yang menyebabkan pandemi global ini.

“WHO telah menetapkan label yang sederhana, mudah diucapkan dan diingat untuk varian utama SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, dengan menggunakan alfabet Yunani,” tulis WHO di situsnya.

Menurut WHO, penggunaan alfabet Yunani tidak serta merta menghapuskan istilah ilmiah yang lebih dulu disematkan ke varian virus tersebut. Penggunaan istilah baru ini, selain agar mudah diingat, juga diharapkan dapat mengatasi kesalahan dalam pembuatan laporan dan menghilangkan stigma di masyarakat.

“Meskipun memiliki kelebihan, nama ilmiah itu mungkin sulit untuk diucapkan dan diingat, dan rentan terhadap kesalahan dalam pelaporan. Akibatnya, orang sering menggunakan penyebutan varian berdasarkan tempat mereka terdeteksi,” kata organisasi tersebut.

Kelompok Varian of Concern

Apa saja varian COVID-19 yang sudah ditemukan di dunia dan istilah yang digunakan? Washington Post memaparkannya sebagai berikut.

1. Varian Alfa (B.1.1.7)

Varian ini pertama kali ditemukan di Inggris, khususnya di London, pada bulan September 2020 dan kadang-kadang disebut sebagai varian “Kent”. Varian ini tampak lebih menular daripada jenis yang lebih umum. Pada Desember 2020, varian ini menular dengan cepat di Inggris, Denmark, dan Irlandia. Data awal juga menunjukkan bahwa jenis ini mungkin 30 hingga 70 persen lebih mematikan daripada varian sebelumnya.

Konsensus ilmiah menyebutkan bahwa vaksin yang tersedia sekarang masih tetap efektif untuk melawan varian ini karena inokulasi tersebut memicu serangkaian antibodi penetralisasi dan respons sistem kekebalan lainnya. Perusahaan bioteknologi Pfizer, Moderna, dan Novavax mengatakan bahwa vaksin mereka tampak bekerja melawan varian ini.

2. Varian Beta (B.1.351)

Varian ini, juga disebut sebagai 501Y.V2, ditemukan pertama kali di Afrika Selatan pada awal Oktober 2020 dan diumumkan pada Desember 2020. Varian ini diduga telah berkontribusi pada lonjakan infeksi dan rawat inap di seluruh Afrika Selatan dan telah diidentifikasi di lebih dari 80 negara.

Varian memiliki beberapa kesamaan dengan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris dan tampaknya lebih mudah menular. Namun demikian, varian ini dinilai lebih resisten terhadap terapi antibodi dan memungkinkan infeksi ulang. Anthony S. Fauci, kepala penasihat medis Presiden Amerika Serikat, mengatakan, vaksin mungkin memiliki efek yang berkurang terhadap varian ini tetapi mungkin akan tetap efektif.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *