Juli 2021Peristiwa

Aplikasi PeduliLindungi Jadi Syarat Perjalanan Udara

Story Highlights
  • Aplikasi PeduliLindungi Jadi Syarat Perjalanan Udara. Bagaimana mekanismenya?

Pemerintah menerapkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara sebagai salah satu syarat perjalanan udara. Dalam aplikasi ini, informasi vaksinasi calon penumpang dapat terdeteksi pada saat check in di bandara.

“Kebijakan tersebut kita berlakukan secara resmi karena selain menghindari bukti tes dan vaksinasi palsu, mekanisme ini memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat yang hendak bepergian karena tidak perlu lagi menunjukkan dokumen hardcopy yang dapat menimbulkan antrian dan kerumunan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, drg. Oscar Primadi, MPH seperti dikutip dari rilis Kemenkes.  

Oscar mengatakan penerapan sistem check in online dengan database hasil tes PCR dan vaksinasi ini sudah diuji coba selama 2 minggu. Hasil uji coba ini pun berjalan dengan baik karena aplikasi pedulilindungi ini sudah terintegrasi dengan sistem Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pengecekan kesehatan penumpang ini dilakukan pada saat keberangkatan sehingga bisa membuat para penumpang merasa lebih aman dan nyaman.

“Di situasi seperti ini, pengecekan hasil tes kesehatan perlu dilakukan secara ketat untuk memastikan penumpang pesawat benar-benar dalam keadaan sehat. Dengan mekanisme bisa dipastikan bahwa hanya penumpang yang sehat yang bisa masuk ke pesawat,” ujarnya.

Integrasi data seperti ini, lanjut Oscar, dilakukan untuk menghindari pemalsuan bukti hasil tes dan kartu vaksinasi manual. Penerapan aplikasi ini pun secara resmi dilakukan pada 19 Juli 2021. Meski demikian, peraturan ini masih berlaku sementara untuk rute penerbangan Jakarta-Bali-Jakarta dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia dari Bandar Udara Soekarno-Hatta.

“Semua data penumpang yang telah melakukan vaksinasi dan hasil pemeriksaan PCR/antigen tersimpan dengan aman di big data Kemenkes yang diberi nama New All Record atau NAR. Seluruh big data NAR ini terkoneksi dengan aplikasi Pedulilindungi sehingga proses pengisian e-HAC yang selama ini sudah berjalan tidak akan berlaku lagi dan beralih ke aplikasi Pedulilindungi,” ungkapnya.

Dengan adanya kebijakan ini, calon penumpang yang akan bepergian dengan pesawat udara dapat melakukan pemeriksaan tes usap PCR di laboratorium yang telah terafiliasi dengan Kementerian Kesehatan. Saat ini sudah ada 742 laboratorium yang terafiliasi dengan Kemenkes dan memasukkan data ke dalam NAR, sehingga hanya hasil swab PCR dari lab tersebut yang dapat dipakai sebagai syarat penerbangan/

Daftar 742 laboratorium tersebut dapat dilihat dalam surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/4642/2021 Tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pemeriksaan Coronavirus Disease 2019. 

Selain, memastikan keamanan penumpang pesawat udara, Oscar mengungkapkan, integrasi sistem ini dapat mendorong dan memantau pelaksanaan tes dan pelacakan secara real time.

“Melalui integrasi sistem ini, kita juga dapat mendorong dan memantau pelaksanaan tes dan lacak secara real time, sehingga ini akan membantu upaya penurunan laju penyebaran virus COVID-19,” pungkas Oscar.

Seperti diketahui, sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berlangsung mulai tanggal 3 hingga diperpanjang sampai 2 Agustus 2021 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 yang berlangsung pada tanggal 21 sampai 25 Juli 2021, setiap orang yang akan melakukan perjalanan udara diwajibkan untuk menunjukkan hasil tes usap PCR negatif (H-2) dan bukti sudah divaksin (minimal dosis pertama).

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *