Juli 2021Media Utama

Cara Tepat Isolasi Mandiri Di Rumah

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan keluarga dan pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Menghindari penularan dan mempercepat kesembuhan. 

Untuk mengurangi beban pelayanan di rumah sakit ketika terjadi lonjakan COVID-19, pemerintah menyarankan pasien COVID-19 yang tidak bergejala dan bergejala ringan agar melakukan isolasi mandiri di rumah. Menurut Buku Saku Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 2, yang dimaksud gejala COVID-19 ringan di antaranya adalah demam, batuk (umumnya batuk kering ringan), kelelahan, penurunan nafsu makan, sakit kepala, kehilangan indra penciuman (anosmia), kehilangan indra pengecapan (ageusia), nyeri otot dan nyeri tulang, nyeri tenggorokan, pilek dan bersin, mual, muntah, nyeri perut, diare, konjungtivitis (radang/iritasi mata), kemerahan pada kulit atau perubahan warna pada jari-jari kaki, frekuensi napas 12-20 kali per menit, serta  dan saturasi lebih dari atau sama dengan 95 persen.

Namun, tidak semua pasien bergejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri di rumah. Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, SpP(K), mengatakan, ada beberapa kriteria tempat tinggal yang harus dipenuhi agar dapat digunakan untuk isolasi mandiri di rumah. Kriteria itu antara lain memiliki ruangan sendiri atau tidak serumah dengan anggota keluarga yang memiliki resiko tinggi seperti bayi, orang lanjut usia, orang dengan sistem imun yang rendah, atau anggota keluarga yang memiliki penyakit komorbid. “Jika tidak memenuhi syarat di atas, segera kontak fasilitas kesehatan atau pusat kesehatan masyarakat terdekat agar dirujuk ke layanan isolasi atau rumah sakit terdekat,” katanya dalam Webinar Isolasi Mandiri Pasien COVID-19 pada Jumat, 3 Juli 2021.

Apabila kondisi tempat tinggal sudah memenuhi syarat, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Menurut Buku Saku Tanya Jawab Mengenal Kesatria Isoman dan Isoman-Tau yang diterbitkan oleh Instalasi Peningkatan Kompetensi dan Simulasi Klinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, keluarga harus menyiapkan kamar yang terpisah dengan anggota keluarga yang negatif COVID-19. Mereka juga harus menyiapkan alat makan tersendiri untuk pasien. Akan lebih baik kalau kamar mandi yang pasien gunakan juga terpisah dari anggota keluarga lain.

Keluarga juga perlu menyiapkan thermometer dan oksimeter nadi (pulse oxymetry) untuk memantau suhu, saturasi oksigen, dan frekuensi nadi. Protokol kesehatan harus dijalankan secara ketat di dalam rumah.

Selain itu, pasien juga harus mengelola sampah, seperti tisu yang digunakan untuk membuang ingus atau dahak dan masker, dengan mengumpulkannya dalam satu kantong plastik di sebuah tempat sampah tertutup di sudut kamar. Tempat sampah tersebut khusus untuk pasien dan tidak boleh tercampur dengan sampah rumah tangga lainnya. Sebaiknya kantong sampah yang digunakan ditandai dengan “limbah infeksius”.

Dalam paparannya, Erlina menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasien yang sedang melakukan isolasi mandiri di rumah. Dia menyarankan agar pasien membuka jendela kamar agar cahaya matahari bisa masuk dan ada sirkulasi udara. Jika tidak terdapat jendela kamar, pasien bisa mencari udara segar atau berjemur di luar rumah secara rutin. Ini dapat dilakukan dengan syarat  anggota keluarga lain berkoordinasi untuk tidak melakukan kontak dengan pasien, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Area dan ruang yang dilalui pasien juga dapat langsung disemprot dengan disinfektan aerosol.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *