Juli 2021Lentera

Mengendalikan Panik Di Kala Pandemi

Panik dalam situasi yang sulit dikendalikan adalah sesuatu yang wajar dari sisi kemanusiaan. Tapi mampu mengendalikannya dapat menenangkan jiwa dan pikiran dalam situasi sulit.

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan sabar adalah awal penyembuhan.” Demikian nasihat Ibnu Sina, ilmuwan Muslim dunia yang berkontribusi besar di bidang kedokteran.

Nasihat Ibnu Sina ini nampaknya tepat jika diungkapkan di tengah kepanikan masyarakat saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika angka positif harian naik antara 30.000-40.000 kasus, tentu saja informasi-informasi ini mempengaruhi psikologis masyarakat. Pasien COVID-19 menyerbu rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan. Akibatnya, seluruh rumah sakit rujukan COVID-19 di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi dan Tangerang penuh, bahkan menambah beberapa tenda pada Unit Gawat Darurat (UGD). Hal ini juga terjadi pada beberapa rumah sakit rujukan COVID-19 di Kabupaten/Kota di pulau Jawa.

Dampak dari jumlah pasien COVID-19 yang meroket, maka kebutuhan oksigen menjadi meningkat drastis, bahkan tabung oksigen sempat menghilang dari pasaran karena sudah terbeli habis. Banyak pasien yang tidak mendapatkan oksigen dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. 

Selain itu, banyak pula yang mengalami kesulitan untuk mendapat layanan ambulans ketika akan mengantar pasien ke pelayanan fasilitas kesehatan atau pemakaman.

Kisah seperti ini hampir dijumpai di berbagai media sosial, aplikasi pesan singkat, termasuk media nasional juga memberitakannya. Di satu sisi, memang informasi ini merupakan informasi publik yang sudah sepatutnya diketahui masyarakat. Namun sisi lain, juga memicu rasa khawatir yang berlebihan juga hingga panic attack.  

Salah satunya, Sri Sayekti (50) yang baru 1 hari dinyatakan sembuh dari COVID 19 setelah 2 minggu isolasi mandiri. Tepat tanggal 12 Juli 2021, Sri Sayekti langsung membantu adik iparnya yang bernama Dini karena merasa sakit kepala, batuk dan sesak nafas untuk mendapat perawatan kesehatannya. 

“Saat kondisi Dini masih di rumah, dengan gejala sakit kepala, batuk dan nafasnya agak sesak, sementara saturasinya terekam 70. Saya segera membawa ke rumah sakit Taman Harapan Baru (THB), Bekasi Utara Kota Bekasi,” ujar Sri Sayekti.

Menurut Cici, begitu panggilan Sri Sayekti, Dini langsung mendapatkan perawatan di UGD dengan menggunakan oksigen. Waktu masuk UGD pukul 10.00 WIB, setelah mendapat oksigen saturasi langsung naik menjadi 89. Namun, yang menjadi masalah rumah sakit THB bukan rumah sakit rujukan COVID-19, sehingga harus dirujuk ke rumah sakit lain yang menjadi rujukan COVID-19. Berkali-kali petugas UGD meminta segera memindahkan Dini ke rumah sakit lain.

Bagi Cici, dengan langsung memberikan persetujuan, dapat membantu adiknya segera dirawat. Masalah lain yang muncul, Cici belum juga menemukan rumah sakit rujukan COVID-19 yang dapat menampung adiknya, bahkan ambulans yang mempunyai oksigen untuk mengantar pasien juga belum dapat. Semua kontak yang terkait dengan ambulans sedang terpakai semua. Bahkan ambulan rumah sakit THB sendiri juga tidak bisa mengantarnya.

“Terus terang saat itu merasa panik, satu sisi ingin segera memindahkan adik, karena sudah berkali-kali diminta pindah. Di sisi lain, belum mendapat rumah sakit, ambulans dan oksigen yang dibutuhkan Dini. Sebab memindahkan Dini ke rumah sakit lain tanpa oksigen akan berdampak buruk pada saturasi dan mengancam keselamatan nyawanya,” cerita Cici.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
Close