Juli 2021Peristiwa

Pemerintah Tetapkan Harga Eceran Tertinggi 11 Jenis Obat Di Masa Pandemi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/4826/2021 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) Obat Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Kebijakan ini dikeluarkan sehubungan dengan adanya pelonjakan harga yang signifikan sejumlah obat di masyarakat, dimana ada ada 11 jenis obat yang diatur dalam SK tersebut.

“Jadi 11 obat yang sering digunakan dalam masa pandemi COVID-19 ini kita sudah atur harga eceran tertingginya. Saya tegaskan di sini, kami harap aturan harga obat itu agar dipatuhi,” ujar Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, sebagaimana dilansir dalam rilis Kemenkes, Sabtu, 3 Juli 2021.

Menurut Budi, keputusan ini diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia. Daftar harga eceran tertinggi untuk 11 jenis obat tersebut sebagai berikut:

  1. Favipiravir 200 mg (Tablet) Rp.22.500 per tablet
  2. Remdesivir 100 mg (Injeksi) Rp.510.000 per vial 
  3. Oseltamivir 75 mg (Kapsul) Rp.26.000 per kapsul
  4. lntravenous Immunoglobulin 5% 50 ml (lnfus) Rp.3.262.300 per vial
  5. lntravenous Immunoglobulin 10% 25 ml (Infus) Rp.3.965.000 per vial
  6. lntravenous Immunoglobulin l07o 5O ml (Infus) Rp.6.174.900 per vial
  7.  Ivermectin 12 mg (Tablet) Rp.7.500 per tablet
  8. Tocilizrrmab 400 mg/20 ml (Infus) Rp.5.710.600 per vial
  9. Tocilizumab 8o mg/4 ml (Infus) Rp.1.162.200 per vial
  10. Azithromycin 500 mg (Tablet) Rp.1.700 per tablet
  11. Azithromycin 500 mg (Infus) Rp.95.400 per vial

“Harga eceran tertinggi ini merupakan harga jual tertinggi obat di Apotek, Instalasi farmasi, RS, klinik dan Faskes yang berlaku di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Tindak Tegas

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, bagi pihak yang menjual harga di atas HET yang telah ditetapkan, maka akan ditindak tegas. Begitu juga, pihak kepolisian menyatakan akan memproses hukum apabila ditemukan pelanggaran terhadap HET 11 jenis obat tersebut.

“Apabila terjadi hal-hal yang diperkirakan menjual obat dengan harga yang lebih mahal, sengaja menimbun obat sampai menimbulkan keselamatan masyarakat jadi terganggu akan kita lakukan penegakkan hukum dan pihak kejaksaan menyatakan siap untuk mendukung apapun langkah yang dilaksanakan oleh Polri,” ucap Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto.

Sementara itu Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban, dalam diskusi secara daring menyebutkan lima organisasi profesi kedokteran Indonesia tidak lagi merekomendasikan Azithromycin dan Oseltamivir sebagai obat terapi bagi pasien COVID-19 dengan gejala ringan. 

“Sekarang ini lima organisasi profesi bilang bahwa Oseltamivir dan Azithromycin jangan lagi dipakai mengobati COVID-19, karena memang tidak terbukti ilmiah dan karena ada risiko kurang baiknya,” ujar Prof. Zubairi, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia pada 23 Juli lalu.

“Kalau memang pasien ada infeksi sekunder, ada infeksi bakteri, maka pemberian antibiotic itu dibenarkan, apakah berupa Azitrhromycin atau antibiotic lain. Namun para dokter juga harus sadar, kalau tidak ada bukti yang jelas, ya tidak boleh lagi,” tambahnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *