Info SehatJuli 2021

Penyakit Jantung Pada Atlet

Atlet yang rajin menjaga kondisi tubuh bisa saja mengalami serangan jantung atau henti jantung. Bagaimana menangani orang yang mengalami serangan jantung?

Bintang sepakbola tim nasional Denmark, Christian Eriksen, tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri pada menit ke-42 saat bermain untuk negaranya melawan Finlandia dalam pertandingan Grup B Piala Eropa 2020 pada Sabtu, 12 Juni lalu. Setelah melihat Eriksen tumbang, wasit langsung menghentikan pertandingan dan seluruh pemain hingga penonton yang hadir di stadion Parken, Copenhagen, Denmark, tampak cemas.

Dokter tim Denmark, Morten Boesen, langsung bergegas masuk ke tengah lapangan untuk memeriksanya. Eriksen ternyata sempat mengalami henti jantung dan napas. Tim medis langsung memberikan pertolongan dengan melakukan cardiac resuscitation (CPR) sebelum membawa Eriksen ke rumah sakit. “Peristiwa itu berlangsung cepat. Saya bukan kardiolog, jadi hal-hal yang lebih detail tentang mengapa hal ini terjadi akan saya serahkan kepada ahlinya,” kata Boesen, seperti dilansir Marca.

Dua hari berselang, mantan atlet bulutangkis Indonesia, Markis Kido, dikabarkan meninggal. Penyebab kematian peraih emas olimpiade tersebut adalah serangan jantung. “Almarhum meninggal karena serangan jantung saat sedang main badminton,” kata Yuni Kartika, mantan hubungan masyarakat PBSI yang juga atlet bulu tangkis, sebagaimana dikutip Tempo.co.

Mengapa atlet yang sehat dan senantiasa menjaga kondisi tubuhnya itu dapat mengalami henti jantung atau serangan jantung? Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Pusat Pertamina, dr. Erika, Sp.JP, FIHA, pemeriksaan terlebih dahulu harus dilakukan kepada sang atlet. “Bagi orang sehat, risiko untuk kena penyakit jantung koroner itu biasanya rendah. Kok bisa ada yang tiba-tiba meninggal mendadak? Salah satu diagnosis yang kami pikirkan adalah karena penyakit kelainan irama jantung,” ujar Erika kepada Mediakom pada 23 Juni lalu.

Erika menjelaskan, penyakit kelainan irama jantung atau aritmia dapat muncul sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi dan bahkan bisa terjadi ketika seseorang tidak sedang melakukan aktivitas. “Aritmia bisa muncul kapan saja. Orang lagi diam tiba-tiba pingsan. Ternyata irama jantungnya sangat cepat, tidak teratur, dan sebagainya,” kata dokter lulusan Universitas Trisakti ini.

Henti Jantung dan Serangan Jantung

Menurut Erika, serangan jantung tidak selalu menyebabkan terjadinya henti jantung. Namun, serangan jantung bisa berakhir dengan henti jantung. Pada kasus serangan jantung, terjadi sesuatu di jantung sehingga membuat jantung itu tidak bisa bekerja dengan baik. Hal ini bisa disebabkan karena pecahnya plak atau tersumbatnya secara mendadak pembuluh darah koroner, atau karena gangguan irama jantung. Adapun henti jantung adalah ketika jantung berhenti memompa darah sehingga darah tidak bisa beredar ke organ tubuh. “Kalau serangan jantung tidak berujung pada henti jantung maka tidak perlu CPR. Orangnya masih hidup, jantungnya masih berdetak. Kalau ditekan jantungnya malah sakit,” kata dia.

Pada saat orang tidak sadar, kata Erika, langkah pertama yang harus dipastikan adalah memeriksa jantungnya berhenti atau tidak. Salah satunya dengan memeriksa nadi apakah teraba atau tidak. Jika teraba, maka langkah selanjutnya adalah memeriksa apakah ada masalah pada pernapasannya. “Jaga patensi jalan napas. Posisikan pasien dengan jalan napas yang baik. Tidak perlu dilakukan CPR, bawa langsung ke rumah sakit,” tambahnya.

Apabila saat diperiksa ternyata nadinya tidak teraba barulah bisa disebut orang tersebut mengalami henti jantung. Pertolongan yang dapat diberikan adalah dengan segera menghubungi petugas medis dan melakukan CPR manual jika memiliki kemampuan ini.

Bantuan CPR hanya bersifat sementara sambil menunggu tenaga medis datang dan memeriksa kondisi dengan peralatan monitor yang dapat mendeteksi penyebab henti jantung. Tindakan CPR atau pijat jantung berfungsi untuk menjaga aliran darah ke organ-organ bisa tetap terjaga, seperti jantung tetap berdetak.

Petugas medis yang hadir dengan monitor dapat memantau detak jantungnya. Apabila benar-benar jantungnya tidak berdetak, maka petugas akan meneruskan tindakan CPR. Namun, kalau jantungnya berhenti tapi iramanya sangat cepat dan tidak teratur sehingga membuat jantungnya tidak bekerja, maka akan dilakukan tindakan lain.

“Jika jantungnya seperti hanya bergetar saja, obatnya berbeda. Ia perlu dikejut listrik untuk menetralkan listriknya. Biar listriknya kembali ke nol dan kita menstimulasi lagi ke listrik yang normal,” kata Erika.

Menurut perempuan yang lulus pendidikan dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran ini, ketika seseorang tidak sadar, maka ia tidak boleh sama sekali diberi makan atau minum. Hal itu sangat dilarang karena saluran pemisah antara makanan ke lambung dengan ke paru-paru itu berbeda tipis. “Ketika kita masukkan (makanan atau minuman) dan dia tidak sadar, hal itu justru malah membahayakan. Yang ada malah (makanan) masuk ke paru-paru. Bila paru-paru kemasukan cairan, orang akan jadi sesak napas,” ucap Erika.

Menurut Erika, kasus henti jantung maupun serangan jantung pada orang tidaklah sama. Ada orang yang memiliki tanda-tanda, ada juga yang tanpa diawali tanda-tanda. Pada atlet yang biasanya rutin melakukan medical check up, bisa saja tanda penyakit jantung khusus, seperti kelainan irama jantung, bisa tidak ditemui karena pemeriksaan dilakukan secara umum saja tanpa adanya pemeriksaan tambahan yang detail.[*] 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *