Juli 2021Media Utama

Sembuh Dari Rumah

Orang tanpa gejala atau bergejala ringan COVID-19 diminta untuk isolasi mandiri. Butuh waktu sekitar sepuluh hingga 13 hari. 

Untuk menekan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan penuhnya rumah sakit, pemerintah meminta pasien yang tidak bergejala atau bergejala ringan melakukan isolasi mandiri di rumah. Mereka tidak pergi bekerja, bersekolah, atau ke tempat-tempat umum dan melakukannya secara sukarela atau berdasarkan rekomendasi dari penyedia layanan kesehatan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenal istilah “isolasi” dan “karantina”. Isolasi adalah memisahkan orang yang sakit COVID-19 dan mungkin menular untuk mencegah penularan. Adapun karantina adalah membatasi kegiatan atau memisahkan orang yang tidak sakit tetapi mungkin terpajan COVID-19.

Dalam Buku Panduan Isolasi Mandiri yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), isolasi mandiri dapat dilakukan bila pasien memiliki lingkungan rumah atau kamar dengan ventilasi yang baik. Selama melakukan isolasi mandiri di rumah, pasien harus rutin memeriksa kondisi tubuh, seperti suhu, saturasi oksigen, dan frekuensi nadi.

Menurut Buku Saku Protokol Tata Laksana COVID-19, isolasi mandiri di rumah bagi pasien tidak bergejala dilakukan selama 10 hari sejak pengambilan spesimen dan terkonfirmasi positif COVID-19. Adapun pasien yang memiliki gejala ringan melakukan isolasi mandiri selama maksimal 10 hari sejak munculnya gejala ditambah tiga hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan.

Untuk meningkatkan layanan bagi mereka yang menjalani isolasi mandiri di rumah, Kementerian Kesehatan memberikan fasilitas layanan telemedisin. Layanan ini memungkinkan pasien berkonsultasi dengan dokter dan mendapat obat dari Kimia Farma. “Kami bekerja sama dengan 11 platform telemedisin untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan juga jasa pengiriman obat secara gratis,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada  5 Juli lalu.

Sebagaimana ketentuan WHO dan juga Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), pasien tanpa gejala yang telah melakukan isolasi mandiri selama 10 hari dapat dinyatakan sembuh. Adapun pasien bergejala ringan dinyatakan sembuh setelah isolasi mandiri selama 10 hari sejak muncul gejala ditambah tiga hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan. Jika gejala lebih dari 10 hari, maka isolasi dilanjutkan hingga gejala hilang ditambah dengan tiga hari bebas gejala.

Apabila telah melakukan prosedur tersebut, pasien tidak perlu lagi untuk menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) ulang guna dinyatakan sembuh. “Tidak perlu lagi tes usap evaluasi (apalagi sampai menunggu hasil PCR negatif) untuk yang sudah selesai isolasi mandiri,” kata dokter spesialis patologi klinik Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Baskoro Justicia Prakoso, Sp.PK, kepada Mediakom, Jumat, 30 Juli lalu.

Menurut Baskoro, hasil tes PCR yang masih positif pasca-isolasi tidak selalu berhubungan dengan keadaan menular. Virus yang sudah mati, kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ini, tidak menular lagi. Jasad reniknya masih bisa tetap ada di tubuh dan terambil saat dilakukan tes usap sehingga hasil tes PCR akan positif.

Pasien bergejala ringan yang selesai isolasi harus bisa membedakan antara gejala yang masih dialami dengan sakit berkepanjangan pasca-COVID-19. Mereka disarankan untuk melakukan konsultasi jika masih ada gejala setelah melalui periode 13 hari isolasi. “Gejalanya mesti dinilai oleh dokter yang merawat karena ada beberapa orang yang batuk berkepanjangan, lemas berkepanjangan,” kata Baskoro.

Selama isolasi, pasien juga perlu mewaspadai periode rawan. Asisten profesor penyakit menular di University of Alberta, dr. Ilan Schwartz, menyatakan bahwa sebagai besar pasien yang melakukan isolasi dapat sembuh dalam waktu sekitar seminggu tapi sebagian kecil pasien justru kondisinya memburuk. “Setelah gejala awal, keadaan menjadi stabil dan bahkan mungkin sedikit membaik, dan kemudian ada perburukan sekunder,” kata dia, seperti dikutip The New York Times edisi 30 April 2020.

Meskipun kondisi setiap pasien berbeda, dokter mengatakan bahwa hari kelima hingga 10 seringkali merupakan waktu yang paling mengkhawatirkan untuk mengalami komplikasi pernapasan. Ini terutama untuk pasien yang lebih tua dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, atau diabetes.

Menurut Profesor Kesehatan dan Kedokteran Populasi di NYU Langone Health, dr. Leora Horwitz, pada penyakit lain, setelah satu minggu menjalani perawatan bisa tampak mulai pulih, tapi tidak demikian bagi pasien yang terjangkit virus SARS CoV-2. “Dengan Covid-19, saya memberi tahu orang-orang bahwa sekitar seminggu adalah saat saya ingin Anda benar-benar memperhatikan perasaan Anda. Jangan berpuas diri dan merasa semuanya sudah berakhir,” kata dia kepada The New York Times.

Dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan,  Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, SpP(K), mengingatkan pasien yang melakukan isolasi agar mewaspadai kondisinya yang memburuk. Dia mengatakan, jika suhu tubuh pasien naik hingga 38 derajat atau mengalami gejala lain seperti sesak napas dan saturasi oksigen kurang atau gejala berat lainnya, segera hubungi petugas medis, rumah sakit, ambulans atau segera ke instalasi gawat darurat. [*] 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button