Agustus 2021Peristiwa

Hari ASI Sedunia, Dukung Ibu Menyusui Lawan COVID-19

Di masa pandemi COVID-19 ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu menyusui untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada buah hatinya. Dukungan baik moral dan spiritual bagi ibu menyusui harus digencarkan agar tetap bisa melanjutkan pemberian ASI secara eksklusif kepada bayinya. Apalagi ASI mengandung antibodi Imunoglobulin A dan G, Lactalbumin, Lactoferin dan zat lain yang secara spesifik merupakan benteng perlawanan terhadap SARS-CoV-2.

“Pada ibu yang terkonfirmasi positif ternyata di dalam ASI-nya, mengalir antibodi Imunoglobulin A dan G, mengalir pula Lactalbumin, Lactoferin dan lain-lain, yang secara spesifik merupakan benteng perlawanan terhadap SARS-CoV-2. Inilah yang disebut imunisasi pasif yang alami, yang diberikan ibu penyintas COVID-19 kepada bayinya,” kata Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Wiyarni Pambudi dalam Peringatan Pekan Menyusui Sedunia 2021 yang disiarkan melalui akun Youtube Kementerian Kesehatan RI pada Kamis, 5 Agustus 2021.

Hari perayaan World Breastfeeding Day (WBD) atau Pekan ASI Sedunia (PAS) tahun 2021, menggagas tema Protect Breastfeeding: a Shared Responsibility atau bila dibahasakan menjadi Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama.

Menurut Wiyarni, ibu menyusui yang terkonfirmasi positif COVID-19 tetap bisa memberikan ASI ekslusif untuk buah hatinya. Berdasarkan hasil penelitian, ASI pada ibu positif COVID-19 memiliki kandungan antibody. Wiyarni menambahkan antivitas antibodi sIgA spesifik SARS-CoV-2 dan IgG spesifik dalam air susu penyintas COVID-19 mampu bertahan selama 7-10 bulan pasca infeksi. Peningkatan kekebalan tubuh juga ditemukan pada ibu menyusui yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19. Bahkan, kadar antibodinya telah meningkat sejak 14 hari pasca penyuntikan pertama.

“Pada ibu yang telah vaksinasi COVID-19 ditemukan kadar antibodi slgA spesifik SARS-CoV-2 dalam ASI meningkat pesat dalam waktu 14 hari pasca vaksinasi dosis pertama, semakin kuat setelah minggu ke-4 dan terukur lebih tinggi pada minggu ke-5 dan ke-6,” terangnya.

Dalam dua kondisi tersebut, Wiyarni berharap agar gerakan memberikan dukungan dan semangat terhadap ibu menyusui untuk memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya terus digalakkan terutama saat pandemi COVID-19. Sebab, selain sebagai sumber makanan utama, ASI juga penting untuk melindungi bayi dari paparan COVID-19.

Plt. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Kartini Rustandi, mengatakan menyusui terbukti secara signifikan mampu meningkatkan kesehatan, perlindungan maupun kesejahteraan untuk ibu, bayi, maupun keluarga.

Satgas COVID-19 IDAI mencatat hingga akhir Juli 2021 sebanyak 447 anak berusia di bawah 1 tahun meninggal akibat COVID-19, yang mana 16% di antaranya adalah bayi baru lahir. Karena itu, aktivitas menyusui tidak boleh terputus kendati ibu menyusui adalah kontak erat maupun telah terkonfirmasi positif COVID-19. ASI tetap dapat diberikan dengan tetap melakukan protokol kesehatan ketat dan tidak mengalami gejala yang berat, jadi ibu masih bisa menyusui langsung.

Apabila seorang ibu merasa dirinya lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk menyusui langsung, maka bayi dapat diberikan ASI perah (ASIP) baik oleh ibu maupun anggota keluarga yang lain.

“Menyusui tidak boleh terputus apapun status ibu. Apabila kondisinya tidak memungkinkan, ibu yang positif dan dirawat harus didukung agar bisa memerah ASI. Jika ibu masih kuat, lanjutkan dengan tetap mengikuti protokol pencegahan COVID-19,” tegas Wiyarni kembali.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *