Agustus 2021Resensi

Lelaki dengan Mata Kosong

Novel ini menggambarkan pandangan seorang anak yang tak bisa mengekspresikan emosinya. Bukan berarti dia tidak bisa berempati dan menilai.

Enam orang meninggal dan satu luka-luka hari itu diserang seseorang. Pelaku penyerangan kemudian menikam dirinya sendiri. Yoonjae, yang baru berusia enam tahun, menatap peristiwa itu dengan mata terbuka. Tapi, tatapan itu kosong.

Yoonjae menderita alexithymia. Ini penyakit kejiwaan, yang dilaporkan pertama kali pada tahun 1970, yang menyebabkan seseorang tidak mampu mengungkapkan emosinya. Salah satu penyebabnya ukuran amigdala, salah satu bagian otak yang memroses rasa takut, yang kecil dibanding manusia pada umumnya. Amigdala disebut almon karena salah satu inti yang paling menonjol berbentuk buah almon atau badam.

Yoonjae lahir dan dibesarkan oleh ibu tunggal dan neneknya. Alexithymia membuatnya tidak bisa merasakan apa pun, kecuali rasa sakit yang diderita fisik. Yoonjae mengalami kesulitan untuk mengubah ekspresi wajahnya, bahkan sulit untuk tersenyum. Sang nenek menjulukinya “monster tampan”, sementara teman-teman Yoonjae memanggilnya “robot”. Namun, ibu dan neneknya selalu mengajarkan Yoonjae nilai-nilai dan norma kehidupan, termasuk mengucapkan kata “maaf”, “terima kasih”, dan “tolong”.

Meskipun tak bisa berekspresi seperti laiknya orang pada umumnya, Yoonjae punya perasaan. Dia bisa menilai dan berempati. “Tulang rusukku berasa remuk ketika nenek memelukku. Sejak dulu, nenek sering memanggilku monster. Bagi nenek, kata itu bukanlah sesuatu yang berarti buruk,” kata dia. “Aku yakin nenek memberikanku sebutan seperti itu karena ia sangat sayang padaku dan aku pun mempercayainya.”

Ibu Yoonjae memutuskan untuk membuka toko buku bekas. Dari buku-buku itulah, Yoonjae mulai mengenal ekspresi dan perasaan. “Semua emosi yang tidak bisa kurasakan dan kejadian yang tidak bisa kualami secara diam-diam dimuat di dalamnya,” kata dia.

Ibu dan nenek Yoonjae sangat menyayanginya. Sang Ibu terus mengajarkan berbagai macam emosi yang dirasakan oleh manusia pada umumnya dan bagaimana ia seharusnya merespons saat berbicara dengan orang lain. Cara penulis menggambarkan usaha ini sangat menarik, miris, sekaligus mengundang tawa.

Pada suatu malam Natal di hari ulang tahunnya, terjadi sebuah insiden penusukan yang terjadi di depan mata Yoonjae. Serangan ini menyebabkan neneknya meninggal dunia dan ibunya terbaring koma. Sejak saat itu Yoonjae terpaksa melanjutkan hidupnya seorang diri dan meneruskan bersekolah tanpa ibu di sisinya.

Di sekolah, Yoonjae berteman dengan Gon yang unik. Gon memiliki kepribadian yang sangat meresahkan: bandel, pemberontak, brutal, suka menyakiti. Bahkan, ayahnya menyesal karena Gon terlahir di dunia. Pertemanan Yoonjae dan Gon sangat unik. Yang satu terlihat lemah karena sangat pendiam, sementara yang lain agresif dan pura-pura kuat.

Selain persahabatan, novel ini juga berbicara tentang cinta yang unik. Kemunculan Dora, seorang gadis satu sekolah yang sesekali mampir ke toko buku Yoonjae, membuat Yoonjae mengenal emosi lain: cinta. Penggambaran sulitnya mengungkapkan perasaannya membuat pembaca memahami bahwa Yoonjae sebenarnya memiliki karakter romantis yang manis.

Dora digambarkan sebagai gadis yang supel dan berani. Ia mirip Gon tapi dari sisi positifnya. “Gon mengajariku tentang penderitaan, dosa, dan sakit, sedangkan Dora mengajariku tentang harum bunga, angin, dan mimpi,” kata Yoonjae.

Saat Yoonjae mulai membuka hidupnya untuk orang-orang baru, sesuatu perlahan-lahan mulai berubah dalam dirinya. Saat Gon tiba-tiba mengalami masalah antara hidup dan mati, Yoonjae bahkan melangkah keluar dari zona nyaman yang selama ini ia ciptakan. Yoonjae menjadi pahlawan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Yoonjae tak bisa merasakan simpati karena penyakitnya tapi bukan berarti ia tidak bisa menilai sesuatu. Di bahkan punya prinsip hidup yang rasional. Di balik matanya yang kosong, Yoonjae adalah seorang anak dengan kemampuan analisa yang bagus tapi tidak mampu menyampaikannya ke dunia luar. “Biasanya orang-orang tidak peduli atas kemalangan orang lain dengan alasan terlalu jauh, namun mereka juga tidak melakukan hal apa pun atas kemalangan yang terjadi di hadapan mereka dengan alasan rasa takut yang begitu besar. Kebanyakan orang tidak melakukan apa pun ketika merasakannya dan dengan mudah melupakan rasa simpatinya. Bagiku, itu bukanlah sikap yang benar. Aku tidak ingin hidup seperti itu,” kata Yoonjae.

Sohn Won-Pyung, sang pengarang, menggunakan pendekatan orang pertama dalam menulis novel ini. Hal ini membuat pembaca dapat melihat pikiran-pikiran Yoonjae, yang tak akan terlihat bila ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, misalnya. Pengarang juga menunjukkan empatinya kepada sang tokoh sehingga membawa pembaca untuk turut menerima dan memahami segala keterbatasan Yoonjae.

Resensi Novel Almond:

  • Judul : Almond
  • Penulis : Sohn Won-Pyung
  • Penerbit : Penerbit PT Grasindo
  • Penerjemah: Suci Anggunisa Pertiwi
  • Halaman : xii + 222 halaman
  • Cetakan Pertama: April 2019
  • ISBN : 9786020519807

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button