Resensi

Banyak Cara untuk Menjadi Pembicara

Buku ini mengajarkan trik-trik mudah dan sederhana untuk melatih diri menjadi pembicara publik. Berlatihlah sambil mandi.

Apakah saya berbakat menjadi pembicara? Inilah pertanyaan yang sering terlontar ketika seseorang diminta untuk menjadi narasumber. Gugup, takut ditanya, dan cemas terhadap audiens yang dinilai lebih pintar dan berpengalaman adalah hal-hal yang umumnya dirasakan oleh pembicara dengan jam terbang minimal.

Orang mengira modal utama menjadi pembicara adalah keberanian tampil di depan orang lain. Hal itu tidak sepenuhnya keliru tapi jauh dari separuh benar. Keberanian tanpa ditunjang dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengirimkan pesan ke audiens akan menjadikan seorang pembicara layaknya orang mabuk yang mengoceh tidak karuan di depan orang lain.

Buku Public Speaking Mastery yang ditulis Ongky Hojanto ini merupakan rangkuman pembelajaran selama lebih dari 13 tahun karir Ongky di bidang public speaking. Dalam buku ini, pembaca dituntun untuk menghindari ketakutan untuk tampil di muka umum; mempelajari teknik-teknik berbicara, seperti cara menjawab pertanyaan audiens atau menghindari lupa akan topik pembicaraan; hingga membuat sesi penutup yang berkesan.

Dalam menulis bukunya, Ongky mengambil pelajaran dari banyak tokoh dunia. “Jenderal Ulysses S. Grant, panglima perang Amerika yang mengantarkan pasukannya mengalahkan lawan, diminta berbicara di depan umum dan mengaku ketakutan. Bahkan, Charles Stewart Parnell, pemimpin hebat Irlandia, merasa gugup saat akan berbicara di depan umum. Dia mengepalkan tangannya sampai kukunya menancap di telapak tangan dan membuatnya berdarah,” tulis  Ongky.

Kita sering melihat atau mengalami kebosanan dan bahkan mengantuk saat mendengarkan materi dari seorang pembicara. Pembicara hanya mampu membuat audiens tahan mendengarkan selama 15 menit. Setelah itu satu per satu tumbang dan berkelana di alam mimpi. Jika audiens tertidur saat seseorang menyampaikan presentasi atau public speaking, berarti ada yang salah dalam cara ia melakukannya, entah nada suara yang monoton, mimik wajah yang datar, atau gestur yang pasif.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button