Media UtamaSeptember 2021

Bertahun-tahun Bergelut dengan Tuberkulosis

Budi Hermawan menderita tuberkulosis selama bertahun-tahun. Mendirikan organisasi untuk mendukung sesama pasien.

Pada 2003 lalu, Budi Hermawan menderita tuberkulosis (TBC). Dia batuk-batuk sampai mengeluarkan darah. Budi pun dirawat di sebuah rumah sakit swasta dan diberi obat. Bila obatnya habis, ia kembali ke rumah sakit. Pada bulan keempat, ia merasakan badannya sudah enak, batuknya hilang, dan merasa sudah sembuh. Ia berhenti minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Saat itu ia tidak tahu kalau berobat TBC tidak boleh putus meski pasien sudah merasa sehat.

Sekitar tujuh bulan kemudian, Budi kembali sakit dengan batuk darah yang lebih parah dari sebelumnya. Hasil pemeriksaan laboratorium dan foto Rontgen menunjukkan ia menderita TBC. Mulailah Budi berobat TBC untuk kedua kalinya.

Namun, pengobatan yang baru dimulai itu sempat berhenti dua minggu karena ia mengalami gangguan pada livernya. Setelah itu, Budi meneruskan pengobatan TBC namun tak kunjung sembuh. “Saya minum obat lagi tapi tidak sembuh-sembuh sampai kehabisan uang karena saya berobat ke dokter spesialis. Saat itu obatnya lepasan. Kalau uang saya kurang, maka obat itu tidak penuh saya beli. Dari lima obat yang diresepkan, saya hanya beli dua saja,” kata lelaki 43 tahun ini kepada Mediakom pada 24 September lalu.

Belakangan ia menyesal karena tidak tahu dampak mengurangi obat yang dapat membuat kondisinya lebih parah. Pada 2007, warga Bogor ini mulai menggunakan obat program pemerintah setelah berobat di puskesmas. Setahun berobat, tak juga kunjung sembuh. Akhirnya ia dirujuk ke Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo di Cisarua, Bogor.

Dua tahun berobat, dia tak juga sembuh. Hampir setiap kali kunjungan ke rumah sakit ia marah dan menendang kursi ruang tunggu karena hasil pemeriksaan dahaknya selalu positif. “Pernah hasilnyanya negatif tapi ternyata negatif palsu. Saya marah dan sangat kecewa. Padahal saya sudah minum obat dan kulit sudah gosong,” kata Budi.

Kondisi ini membuat Budi berhenti berobat selama setahun. Pada 2010, ia sakit batuk darah lagi dan kembali ke Cisarua. Dokter menyatakan dia sebagai pasien TBC RO (resisten obat). “Saat itu saya sudah dinyatakan sebagai pasien TBC yang kebal obat, TBC RO, dan paru-parunya harus diangkat dengan biaya saat itu sekitar Rp 150 juta. Saya sudah berpikir mati. Bagaimana hidup tanpa paru-paru,” kenangnya.

Budi memutuskan untuk tetap berobat. Ia menjual semua aset untuk mendapatkan biaya pengobatan. Dia lalu kembali ke Cisarua untuk menjalani pengobatan sesuai saran dokter. Dokter batal mengoperasi dan menyarankan Budi untuk berobat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan. Pada 2010, ia mulai menjalani pengobatan untuk TBC MDR (multidrug resisten).

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button