September 2021Serba Serbi

Biblioterapi: Terapi Penyembuhan melalui Baca Buku

Membaca buku ternyata bisa menyembuhkan jiwa seseorang yang sedang dirundung berbagai permasalahan hidup. 

Seorang ibu menangis ketika membaca buku yang direkomendasikan oleh seorang terapis. Kisah dalam buku tersebut, mirip dengan apa yang sedang dialami. Setelah membaca buku itu, sang ibu menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah keluarganya. Ia juga merasa tidak sendiri, ada orang lain yang memiliki masalah yang sama dengannya.

Ini satu kisah yang diceritakan Susanti Agustina, seorang pustakawan dan dosen sekaligus juga biblioterapis, kepada Mediakom, 14 September 2021. Susanti merasa berhasil membantu ibu yang sedang mengalami masalah keluarga dengan memberikan rekomendasi buku yang perlu dibaca sang ibu. 

“Ternyata the powerfull of book itu ada. Buku bisa menjadi sarana terapi untuk orang yang sedang mengalami masalah. Inilah biblioterapi, suatu treatment, penggunaan media buku yang dapat digunakan untuk penyembuhan,” kata Susanti yang sudah menulis beberapa buku tentang biblioterapi. 

Menurut Susanti, pustakawan juga dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang berbagai buku dengan tujuan terapi. Meskipun sebenarnya, terapi tidak hanya bisa menggunakan perantara buku tetapi juga menonton film dan mendengarkan lirik lagu.

Ada 5 fase biblioterapi yang dapat dilakukan terapis, yaitu:

Fase 1, fokus pada klien. 

Disini seorang terapi perlu memahami klien. Kita kenali apakah klien suka membaca, sampai mana keterbacaannya. Diperlukan membangun hubungan antara terapis dengan klien (building rapport).

Fase 2, fase katarsis. 

Bila sudah terbangun komunikasi yang baik, klien akan lebih mudah mengeluarkan emosi positif dan negatifnya. Dia akan bisa tertawa, sedih, menangis, dan bisa bercerita tentang masalahnya.

Fase 3, Fase afeksi. 

Pada saat mengidentifikasi klien, akan diketahui apakah masalah yang diceritakan klien karena kurang pengetahuan atau terkait perasaan. Pada klien yang terkait perasaan ada di fase afeksi. Disini klien diberikan buku-buku fiksi.

Fase 4, kognitif.

Pada fase ini, klien dapat diberikan buku nonfiksi. Misalnya pada klien dengan masalah ekonomi, maka dapat diberikan buku yang berisi pengetahuan ekonomi.

Fase 5, perubahan perilaku.

Misalnya pada klien yang mengalami kondisi kesehatan tertentu, dapat disarankan mengonsumsi madu sesuai buku rujukan. 

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button