Info SehatSeptember 2021

Fakta dan Mitos Penyakit Jantung

Apakah dada berdebar-debar merupakan gejala penyakit jantung? Yang mana mitos dan fakta sebenarnya? Bagaimana cara mencegah penyakit jantung?

Apakah nyeri dada merupakan indikasi seseorang memiliki penyakit jantung?  Dalam buku Menaklukkan Pembunuh No. 1 (2010), Dr. A. Fauzi Yahya, Sp.J.P(k)., FI.H.A. menjelaskan, apabila setelah beraktivitas, rasa sakit dada mereda, berarti kemungkinan besar bukan jantung yang bermasalah. Sebaliknya, jika rasa sakit dada itu bertambah parah, ada kemungkinan ada masalah pada jantung.

Mitos: Dada Nyeri Gejala Penyakit Jantung

Tak semua jenis nyeri di dada adalah gejala penyakit jantung. Menurut Kementerian Kesehatan, ada beberapa gejala penyakit jantung yang harus diwaspadai, seperti jantung berdebar-debar atau dikenal dengan istilah “palpitasi”. Gejala lain seperti dada diremas-remas, kemudian sesak napas, yang biasanya disertai dengan keringat dingin, rasa lemas, jantung berdebar, dan bahkan bisa pingsan. Ada pula gejala nyeri pada dada sebelah kiri, rasa mual dan muntah, berkeringat dingin dan perasaan mudah lelah, serta pusing atau sakit kepala.

Mitos: Masih Muda Tidak Perlu Cek Kolesterol

Penyakit jantung bisa mengancam siapa saja. Bahkan, orang dengan kondisi tubuh yang sehat dan bugar pun berpotensi memiliki penyakit jantung. Meski dikenal sebagai silent killer, serangan jantung bisa dihindari dengan menurunkan dan mengontrol kadar kolesterol. The American Heart Association merekomendasikan agar orang mengecek kadar kolesterol saat memasuki usia 20-an dengan rentang waktu pengecekan lima  tahun sekali. Tes kolesterol ini tidak hanya disarankan bagi individu yang keluarganya memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi harus dilakukan oleh setiap individu guna memastikan kadar kolesterolnya tetap terkontrol.

Apabila kadar kolesterol dalam tubuh tinggi, mulailah untuk memperbaiki pola hidup. Kurangi konsumsi makanan berkadar kolesterol tinggi dan lemak jenuh, perbanyak konsumsi buah dan sayur, serta rutin beraktivitas fisik.

Fakta: Duduk Terlalu Lama Memicu Penyakit Jantung

Duduk terlalu lama sepanjang hari tidak disarankan karena meningkatkan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke. Bila terlalu banyak duduk, maka kalori yang dibakar sedikit sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan lemak. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan risiko diabetes, kegemukan, dan penyakit jantung. Bahkan, seseorang yang rutin melakukan aktivitas fisik pun tetap berpotensi tinggi mengalami serangan jantung manakala sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk.

Hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi faktor risiko adalah dengan memperbanyak gerak. Lakukan gerakan sederhana dengan berjalan berkeliling ruangan sembari menggerakkan anggota tubuh yang lain. Gerakan ini bisa membakar kalori, menurunkan berat badan, dan meningkatkan energi dalam tubuh. Aktivitas ini juga bisa memecah lemak dan gula tubuh. Perbanyak konsumsi air putih minimal delapan gelas sehari; makan makanan sehat yang rendah gula, garam, dan lemak; atur jarak aman antara komputer dengan mata; serta lakukan gerakan-gerakan sederhana setiap beberapa menit untuk menjaga tubuh tetap rileks.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button