Media UtamaSeptember 2021

Inovasi dari Tanah Datar

Pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Datar mengembangkan berbagai program untuk mempercepat penanggulangan tuberkulosis. Sudah dimulai sejak 2018.

Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis yang terbit pada 2 Agustus 2021 lalu menargetkan penurunan angka kejadian dan kematian akibat tuberkulosis (TBC) pada 2030. Salah satu caranya melalui penguatan dukungan pemerintah daerah dalam penanggulangan TBC.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Datar, dr. Yesrita Zedrianis, M.Kes., menyatakan, ada sejumlah kendala dalam pengentasan TBC di daerahnya. Pada 2018, temuan suspek TBC baru mencapai 19 persen dari target 90 persen. Di tahun yang sama, case detection rate atau tingkat temuan kasus positif TBC dan telah ditangani baru 25,3 persen dari target 65 persen penderita. Jumlah itu sempat mengalami kenaikan pada tahun 2019 tetapi kembali turun pada 2020 hingga pertengahan 2021.

Menurut Yesrita, penurunan pada tahun 2020 dan 2021 itu kemungkinan karena mereka masih berfokus pada penanganan pandemi COVID-19. “Jadi, untuk menanggulangi ini (COVID-19), kegiatan-kegiatan dalam program lain mungkin agak terpinggirkan,” kata dia kepada Mediakom.

Yesrita juga mengungkapkan bahwa masyarakat sekarang ragu datang ke sarana pelayanan kesehatan karena ada pandangan apabila mereka datang ke puskesmas atau ke rumah sakit nanti akan jadi pasien COVID-19. Akibatnya, “Masyarakat takut datang ke pelayanan kesehatan,” kata dia.

Menurut Yesrita, ada pula persepsi yang salah di masyarakat mengenai penyakit TBC. “Di Tanah Datar ini sebetulnya masyarakat banyak memahami benar soal TBC. Mereka masih menganggap ini sebagai penyakit keturunan, sebagai penyakit guna-guna. Mereka belum mau mengakui dan dapat terinfeksi,” kata dokter yang sudah memimpin Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Datar sejak 2018 ini.

Inovasi EMPATI

Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Datar kemudian berupaya mencari terobosan untuk berbagai masalah tersebut. Pada 2018, Dinas menggagas program Kita Perangi Penyakit Tuberkulosis dengan Cara Empati (KIPER TBC EMPATI).  Empati sendiri merupakan singkatan dari enam upaya khusus, yaitu edukasi penyakit TBC, motivasi terduga TBC untuk memeriksakan sputum/dahaknya, pemantauan saat menelan obat, ajarkan etika batuk, tingkatkan imun tubuh penderita dengan pemberian makanan tambahan dari nagari/perangkat desa, dan investigasi kontak penderita TBC.

Enam upaya inovasi ini ditopang dengan lima pilar. Pilar pertama adalah Obral TBC EMPATI. Obral yang dimaksud adalah membicarakan atau mempromosikan informasi tentang TBC di berbagai kesempatan. “Kami bekerja sama dengan radio untuk menginformasikannya. Juga ada dialog interaktif. Kami menyampaikan di radio bahwa penyakit tuberkulosis ini penyebabnya, ini cara pencegahannya, dan seperti apa pengobatannya,” kata Yesrita, yang mengawali karirnya sebagai Kepala Puskesmas Sungayang.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *