Kilas InternasionalSeptember 2021

Peluang Vaksin COVID-19 untuk Anak

Hasil penelitian Pfizer dan BioNTech menunjukkan vaksin COVID-19 buatan mereka aman dan efektif untuk diberikan kepada anak usia di bawah 12 tahun. Masih menunggu bukti yang lebih meyakinkan.

Harapan orang tua dan anak-anak usia 5-11 tahun untuk memperoleh perlindungan dari virus SARS CoV-2 sudah menunjukkan titik terang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh produsen vaksin Pfizer dan BioNTech menyatakan, vaksin buatan mereka aman dan efektif untuk diberikan kepada anak usia di bawah 12 tahun.

“Untuk anak-anak usia sekolah dasar, Pfizer menguji dosis yang jauh lebih rendah—sepertiga dari jumlah yang ada di setiap suntikan yang diberikan sekarang. Namun, setelah dosis kedua, anak-anak berusia 5 hingga 11 tahun mengembangkan tingkat antibodi penangkal virus korona yang sama kuatnya dengan remaja dan dewasa muda yang mendapatkan suntikan kekuatan reguler,” kata wakil presiden senior Pfizer, Dr. Bill Gruber, sebagaimana dilansir kantor berita AP pada 21 September lalu.

Penelitian yang dilakukan oleh kedua produsen vaksin COVID-19 itu melibatkan lebih dari 2.000 anak. Anak-anak itu diberi dua dosis vaksin yang lebih kecil daripada yang diberikan kepada orang berusia 12 tahun ke atas. Hasilnya, vaksin yang disuntikan kepada mereka mampu menghasilkan respons antibodi yang sebanding dengan yang terlihat dalam penelitian terhadap orang berusia 16-25 tahun yang menerima dosis penuh vaksin.

Dalam penelitian tersebut juga diketahui bahwa vaksin itu tidak menimbulkan efek samping berat pada anak.

“Dosis anak-anak juga terbukti aman, dengan efek samping sementara yang serupa atau lebih sedikit, seperti lengan yang sakit, demam, atau pegal seperti yang dialami remaja,” ujar Gruber.

Sampai saat ini memang belum ada vaksin COVID-19 yang disetujui atau pun diizinkan untuk digunakan pada anak usia 12 tahun. Oleh karena itu, Pfizer dan BioNTech akan mengajukan permohonan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) agar dapat memperoleh izin untuk penggunaan darurat bagi kelompok usia 5-11 tahun, yang akan diikuti dengan permohonan yang sama ke regulator Eropa dan Inggris.

Kepala FDA, Dr. Peter Marks, mengatakan, setelah Pfizer menyerahkan hasil studinya, pihaknya akan mengevaluasi data  untuk memutuskan apakah suntikan itu aman dan cukup efektif untuk anak-anak yang lebih muda. Kantor berita AP melaporkan, FDA membutuhkan studi yang “menjembatani” kekebalan, yakni bukti bahwa anak-anak yang lebih muda mengembangkan tingkat antibodi yang sudah terbukti protektif pada remaja dan orang dewasa.

Hasil penelitian itu baru dirilis Pfizer tapi bukan sebagai publikasi ilmiah. Studi ini masih berlangsung dan belum ada cukup kasus COVID-19 untuk membandingkan tingkat kemujaraban antara yang divaksin dan yang diberi plasebo yang mungkin menawarkan bukti tambahan.

Banyak negara telah memberikan vaksin kepada anak-anak hingga berusia 12 tahun. Mereka menunggu bukti tentang dosis yang tepat dan aman bagi anak yang lebih muda. Namun, Kuba telah mulai memvaksin anak-anak hingga usia dua tahun dengan vaksin buatan sendiri dan Cina telah mengijinkan vaksinasi untuk anak hingga usia tiga tahun.

Anak-anak memang berisiko lebih rendah terkena penyakit parah atau kematian akibat COVID-19 daripada orang dewasa. Namun, American Academy of Pediatrics mencatat, lebih dari lima juta anak di Amerika telah terinfeksi sejak pandemi dimulai dan setidaknya 460 orang telah meninggal. Kasus pada anak-anak ini meningkat ketika varian delta melanda seluruh Negeri Abang Sam.

NBC News melaporkan, Pfizer dan BioNTech pertama kali mengajukan izin penggunaan darurat untuk vaksinnya bagi orang dewasa pada November tahun lalu dan FDA memberikan persetujuan untuk vaksin dua dosis pada bulan Agustus untuk mereka yang berusia 16 tahun ke atas. Kemudian, pada Agustus lalu, kalangan akademisi merekomendasikan untuk tidak memberikan vaksin kepada anak-anak di bawah 12 tahun sampai disetujui oleh FDA. Produsen vaksin tersebut pun menyerahkan kepada FDA apakah vaksin produksi mereka dapat digunakan.

“Kami bermaksud untuk menyerahkan data pada akhir bulan dan kemudian, tentu saja, terserah pada FDA untuk meninjau data tersebut dan menentukan apakah vaksin dapat dirilis untuk penggunaan secara luas,” kata Gruber kepada NBC News.

Pfizer dan BioNTech juga menguji vaksin pada anak usia di bawah lima tahun dan diharapkan hasil dari uji cobanya keluar pada akhir tahun ini. Selain itu, Johnson & Johnson dan Moderna juga meneliti efek suntikan mereka dalam uji coba pediatrik. [*]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button