Info SehatSeptember 2021

Penderita Komorbid dan Vaksin COVID-19

Penderita penyakit penyerta atau komorbid kini menjadi prioritas penerima vaksin COVID-19. Penyakitnya perlu  dikontrol dulu sebelum divaksin.

Bertambahnya pengetahuan dan pengalaman serta mutasi virus membuat penanganan pandemi COVID-19 mengalami dinamika, baik dalam tataran kebijakan maupun pelaksanaannya. Salah satu perubahan yang nyata adalah dulu penyandang komorbid atau penyakit bawaan tidak disarankan menerima vaksin COVID-19 tapi kini justru menjadi salah satu prioritas penerima vaksin.

“Di awal vaksinasi, sasarannya adalah orang yang sehat dulu, sementara penderita komorbid tidak. Sekarang pola pikirnya berubah, justru orang-orang dengan komorbid itu yang harus mendapat prioritas,” kata Profesor Dr. Zullies Ikawati, Apt., M.M. dalam webinar Kelas Edukasi Jenis Vaksin dan Perbedaanya yang diselenggarakan oleh Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2 September lalu.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh dr. Dirga Sakti Rambe, Sp.P.D.. “Pada prinsipnya, siapa yang lolos skrining itu boleh divaksin. Orang dengan penyakit kronis boleh divaksin. Orang dengan sakit gula, jantung, paru, ginjal, autoimun, kanker, semuanya boleh divaksin dengan catatan semua penyakitnya terkontrol,” kata dia.

Menurut Zullies, saat ini semua penderita komorbid menjadi sasaran prioritas vaksinasi untuk mencegah mereka tidak terkena COVID-19 karena, bila terkena, akan lebih berat penanganannya. Mereka, lanjut Zullies, harus mengonsumsi obat untuk penyakit komorbidnya sekaligus obat untuk mengatasi korona. “Ketika mereka terjangkit COVID-19, maka bisa saja (kondisinya) menjadi lebih berat atau tingkat kesembuhannya menjadi kurang. Maka, sebelum kena COVID-19, (mereka) divaksin dulu,” kata alumni Universitas Gadjah Mada ini.

Penderita Autoimun

Salah satu penyakit komorbid yang sempat tidak diperbolehkan menerima vaksin COVID-19 adalah orang yang memiliki autoimun. Namun, kini penderita penyakit yang menyerang kekebalan tubuh ini sudah bisa menerima vaksin selama memenuhi sejumlah syarat. Menurut Dirga, syarat itu antara lain adalah penyakitnya harus terkontrol, pasien rutin ke dokter, pasien minum obat secara teratur, dan tidak ada keluhan yang bermakna. “Penderita autoimun sebaiknya meminta surat dari dokter yang biasa merawat bahwa Anda layak divaksin sehingga ketika datang ke tempat vaksinasi petugasnya tidak bingung,” kata Dirga.

Dirga menuturkan bahwa semua  jenis vaksin yang ada saat ini aman dan boleh digunakan oleh pasien autoimun. Namun, untuk kondisi tertentu penderita autoimun memang disarankan untuk mendapatkan vaksin jenis mRNA. “Bagi yang memiliki kondisi imunitas terganggu seperti autoimun itu butuh vaksin yang ‘lebih kuat’ dan pilihan yang paling ideal adalah vaksin mRNA, seperti bikinan Pfizer atau Moderna. Tapi, soal keamanan, semuanya aman,” kata Dirga. “Jika yang tersedia bikinan Sinovac, jangan menunggu Pfizer. Ini bukan soal keamanan, tapi soal efektivitas, jadi gunakan yang tersedia saja.“

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button