Media UtamaSeptember 2021

Tantangan Mengeliminasi Tuberkulosis

Banyak tantangan dalam mencapai target eliminasi tuberkulosis  pada 2030. Perlu gotong royong seperti penanganan pandemi COVID-19.

Penyakit tuberkulosis  (TBC) merupakan penyakit menular yang sejak lama ada di Indonesia. Bahkan, sejarah panjang penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis ini tercatat pada salah satu relief Candi Borobudur. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, pada tahun 2020 terdapat 10 juta orang di dunia terjangkit TBC dan 1,4 juta di antaranya meninggal karena penyakit yang dapat menyerang organ paru dan lainnya ini.

“Mengingat tingginya kasus dan beban kematian akibat tuberkulosis , dunia telah berkomitmen untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030,” demikian pernyataan dari Pelaksana Tugas  Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Maxi Rondonuwu, D.S.H.M., M.A.R.S., pada 10 September lalu.

Menurut data Global TBC Report, pada tahun 2020, Indonesia menjadi berada di peringkat kedua negara penyumbang kasus TBC terbanyak dengan jumlah kasus sebanyak 845 ribu dan jumlah kematian sebanyak 98 ribu atau setara dengan 11 kematian per jam. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., Indonesia berada di bawah India, yang kasus TBC per tahunnya mencapai 2,6 juta, dan di atas Cina dengan 833 ribu kasus per tahun.

Tingginya kasus TBC di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti lingkungan, kekebalan tubuh, penemuan kasus, dan kepatuhan untuk meminum obat serta stigma di masyarakat. TBC, kata Nadia, mudah menular di daerah dengan tingkat kepadatan sangat tinggi, kumuh, dan rumah yang tidak memiliki ventilasi yang baik, tidak mendapat sinar matahari yang baik, tidak ada pertukaran udara yang baik, serta kelembabannya tinggi.

Faktor lain adalah keterlambatan untuk mendiagnosis TBC, yang terjadi karena adanya anggapan layaknya batuk biasa di masyarakat, kesulitan mengeluarkan kultur dahak (sputum) bagi masyarakat yang memiliki gejala TBC, dan masih digunakannya mikroskop mendiagnosisnya. Adapun kekebalan tubuh dipengaruhi oleh gizi dan kondisi penyakit lain yang diderita. Selain itu, kepatuhan masyarakat untuk meminum obat masih sangat rendah sehingga banyak yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

“Stigma dan diskriminasi juga masih terjadi, seperti seorang penderita TBC yang batuk berdarah itu dianggap sebagai guna-guna, kutukan,” kata Nadia. “TBC juga masih dianggap sebagai penyakit kelas bawah, padahal TBC bisa menular ke siapa saja karena penularan TBC bisa di mana saja.”

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *