November 2021PotretProfil

Jejak Pemberantasan TBC dari Zaman Kolonial di RSPG Cisarua

93 Tahun berdiri, RSPG Cisarua terus memperbaiki layanan kesehatan terhadap pasien TBC.

Sejarah menunjukan bahwa penyakit paru merupakan salah satu penyakit tertua yang berada di muka bumi, sebagai salah satu bukti seperti yang tergambar dalam relief yang terdapat pada Candi Borobudur. Sebagaimana dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, relief tersebut menggambarkan ketika candi ini dibangun sudah ada penderita tuberculosis (TBC) di masa itu.

Ketika Belanda menjajah Indonesia, permasalahan TBC menjadi salah satu fokus yang berusaha ditangani. Dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, pada tahun 1908 Pemerintah Hindia Belanda membentuk suatu perkumpulan yang dinamakan Centrale Vereeniging voor Tuberculose Bestrijding (CVT) yang pada tahun 1930 diubah menjadi SCVT (Stichting Centrale Vereniging voor Tuberculose Bestrijding) sebagai upaya pemberantasan penyakit tuberkulosis. Selanjutnya, SCVT mendirikan 15 sanatorium besar dan kecil terutama di Jawa dan Sumatra, salah satunya adalah Sanatorium Tjisaroea yang merupakan cikal bakal dari Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua Bogor. Monumen Pendirian Sanotarium Cisarua

“Pada tanggal 15 Agustus 1938 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan serta tanggal 15 November 1938 dilakukan pembukaan pertama Sanatorium vor Lunlojders. Pada tahun 1978 berubah namanya menjadi RSTP (Rumah Sakit Tuberkulosa Paru-Paru) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan,” ujar Direktur Utama RSPG, dr. Ida Bagus Sila Wiweka, Sp.P (K), MARS, kepada Mediakom.

Menurut pria yang akrab disapa Sila ini, sebenarnya sejak tahun 1928 Sanatorium Tjisaroea sudah difungsikan sebagai fasilitas kesehatan untuk pengobatan penderita TBC. Beberapa jejak peninggalan fasilitas sarana pengobatan TBC zaman itu, hingga kini masih ada di area lahan RSPG yang memiliki luas 69.661 meterpersegi. Bangunan Heritage di RSPG Cisarua

“Beberapa bangunan heritage yang masih ada kami gunakan sebagai perpustakaan dan museum untuk menyimpan barang-barang peninggalan bersejarah yang masih ada, seperti museum sederhana,” sebut Sila.

Meski beberapa bangunan lama masih terawat, namun ada satu bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi tidak berhasil dipugar lagi. Bangunan tersebut, kata Sila, dipersiapkan oleh dokter Goenawan sebagai founding father RSPG yang juga merupakan bawahan dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. 

Kala itu, lanjut Sila, sebagai seorang dokter Goenawan mengetahui Jenderal Soedirman menderita penyakit TBC sehingga untuk membantu pengobatannya maka disiapkan bangunan khusus untuk perawatan sang Jenderal Besar.

“Karena beliau dokter, jadi beliau tahu Jenderal Soedirman terkena TBC. Akhirnya dibangunkan di belakang, bangunan yang diperuntukkan bagi beliau. Namun beliau belum sampai di sini sudah meninggal. Untuk bangunan tersebut kami kesulitan untuk menjaganya karena dibuat dari kayu,” terang Sila.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button