Desember 2021Media Utama

Cegah Wabah dengan Empat Vaksin

Vaksinasi lanjutan dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah bertujuan untuk mencegah penularan beberapa jenis penyakit. Agar tidak terjadinya wabah.

Dalam dekade terakhir, Indonesia menjadi sorotan dunia karena wabah penyakit difteri yang dikategorikan sebagai kejadian luar biasa. Pada tahun 2012 tercatat 1.192 kasus difteri dan di pengujung tahun 2017 ada 954 kasus difteri di 30 provinsi dengan jumlah kematian mencapai 44 kasus. Tingginya jumlah kasus difteri ini karena sebagian masyarakat masih menolak menerima vaksinasi.

“Kementerian Kesehatan menyebutnya “immunity gap”, yaitu kesenjangan atau kantong kosong kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah akibat adanya akumulasi kelompok yang tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya sehingga rentan difteri,” tulis dr. Arifianto, Sp. A., dalam bukunya, Pro Kontra Imunisasi.

Bayi yang baru lahir akan mendapatkan perlindungan dari penyakit difteri melalui vaksin difteri, pertusis dan tetanus (DPT) yang dikombinasikan dengan vaksin Haemophilus influenzae tipe B (HiB) dan polio yang disuntik ketika ia berusia 2 bulan. Bayi kemudian akan mendapat vaksinasi lanjutan pada usia 3 bulan, 4 bulan, dan 18 bulan yang dikombinasikan dengan vaksin lain sesuai ketentuan. Saat anak memasuki usia sekolah dasar atau setingkatnya, pemerintah kembali memberikan vaksinasi lanjutan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

“Tujuan BIAS ini merupakan (vaksinasi) lanjutan. Kan mereka sudah mendapat vaksinasi rutin bayi seperti campak, difteri, dan tetanus. Supaya antibodi mereka tetap, maka diberikan (vaksin lanjutan) ke anak-anak sekolah. Ini semacam booster untuk anak-anak sekolah,” ujar Direktur  Jenderal Pencegahan dan Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu, kepada Mediakom pada Senin, 20 Desember lalu.

BIAS merupakan implementasi dari kebijakan Kementerian Kesehatan tentang penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Ada empat jenis vaksin yang diberikan dalam pelaksanaan BIAS, yakni difteri tetanus (DT), campak rubella (MR), tetanus difteri (Td), dan human papillomavirus (HPV). Program ini dilakukan rutin setiap tahun dengan melibatkan siswa sekolah dasar atau setingkatnya pada jenjang kelas tertentu.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button