Desember 2021Resensi

Guru Aini di Tanjung Hampar

Novel Guru Aini karya Andrea Hirata ini menggambarkan idealisme seorang guru sekolah menengah atas di daerah terpencil. Mengingatkan pada Laskar Pelangi.

Enam hari enam malam buku Principles of Calculus menemani Desi Istiqomah menuju Kampung Ketumbi di Tanjung Hampar, Kepulauan Bangka Belitung. Ini sebuah perjalanan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru matematika bagi murid-murid yang tinggal di pelosok dan siapa tahu dapat menemukan seorang anak kampung yang jenius.

Gambar sepatu pada sampul depan novel ini seakan menjadi perlambang perjalanan panjang Desi dari Kota Medan, melewati kota dan desa dengan berganti bus butut, lalu menyeberang dengan kapal sarat penumpang menuju kampung tersebut. Desi mengenakan sepatu yang dihadiahkan ayahnya saat melepas anaknya menjemput impian menjadi guru di pelosok. Ketika berangkat naik bus, sang ayah pula yang mengikatkan tali sepatu tersebut.

Novel Guru Aini karya Andrea Hirata ini menggambarkan idealisme seorang guru sekolah menengah atas di daerah terpencil. Desi adalah lulusan terbaik di SMA-nya yang menolak masuk fakultas kedokteran atau fakultas ekonomi seperti yang disarankan ibunya. Dia malah memilih ikatan dinas Diploma 3 Pendidikan Matematika dan, lagi-lagi, lulus sebagai yang terbaik. Yang mengejutkan lagi, dia memilih untuk ditempatkan sebagai guru di pelosok ketimbang di kota yang dekat dengan keluarganya.

Di Kampung Ketumbi, Desi bertemu banyak murid-murid berbakat tapi tak bernasib baik. Ada Debut Awaludin, anak yang sangat cerdas di bidang matematika dan bahkan dibimbing langsung oleh Desi. Namun, di tengah jalan, Debut berbelok arah, semangat belajarnya musnah dan dia malah bergabung dengan “Rombongan 9”, kelompok anak yang selalu tertinggal dalam pelajaran dan tak mau pula berusaha untuk memahaminya.

Ada pula Nuraini binti Syarifudin, nama lengkap Aini. Berkebalikan dari Debut, Aini adalah anak yang sama sekali tidak mengerti pelajaran berhitung. Dia akan merasa sakit perut tiba-tiba bila berurusan dengan matematika. Nilai matematikanya pun seperti bilangan biner: 1, 0, 1, 0. Namun, keadaan berubah ketika ayah Aini sakit keras dan keluarganya tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena tidak mempunyai uang. Kejadian ini mengguncang Aini sehingga dia berbalik arah dan bertekad menjadi seorang dokter. Namun, untuk menjadi dokter, dia harus pintar matematika. Aini, yang sebetulnya cerdas itu, mengayuh sepedanya ke rumah Desi untuk minta diajarkan matematika.

Novel ini adalah buku pertama dari trilogi Aini. Buku ini lebih banyak menggambarkan perjuangan Desi sebagai seorang guru di pedalaman yang berusaha mendidik murid-muridnya sebaik mungkin. Dia nyaris putus asa ketika mengajarkan matematika kepada Aini hingga suatu keajaiban terjadi sehingga Aini menjadi begitu pandai di bidang kalkulus. Bahkan Aini bisa mengerjakan soal di buku Principles of Calculus milik Desi.

Namun, cerita belum selesai di sini karena Aini masih harus menempuh jalan panjang untuk menjadi seorang dokter. Dapatkah dia meraih cita-citanya?  Bab-bab terakhir buku ini memaparkan usaha yang dilakukan Aini tersebut.

Buku kedua trilogi ini, Orang-orang Biasa, melanjutkan kisah tentang rencana Aini untuk berkuliah di fakultas kedokteran. Desi dan teman-teman Aini, termasuk Rombongan 9, turut membantu Aini untuk menggapai cita-citanya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button