Info SehatJanuari 2022

Beberapa Terapi untuk Atasi Migrain

Migrain membuat orang menderita dan dapat mengganggu aktivitas. Perlu penanganan secara tepat oleh tenaga kesehatan.

Migrain atau sakit kepala adalah salah satu penyakit tertua di dunia. Hippokrates membebaskan migrain dari mitos supranatural dengan melihat penyebabnya dari fisik manusia. Tapi, Ibnu Sina, filsuf muslim terkenal dan peletak dasar kedokteran modern, menjadi ilmuwan pertama yang menghubungkan migrain dengan masalah neurovaskular atau gangguan di pembuluh darah, pandangan yang kini cenderung diterima. Ibnu Sina menggambarkannya dalam buku teks kedokterannya, Al-Qanun fi al-Tibb (Kanun Kedokteran), yang terbit 900 tahun lalu.

Migrain pada dasarnya adalah gangguan sakit kepala. Yang paling umum adalah rasa nyeri tanpa tanda-tanda tertentu yang biasanya berulang dan sering terjadi hanya di satu sisi kepala. Ketika serangan terjadi, kepala terasa berdenyut, indera peka terhadap cahaya dan suara, dan terkadang bisa sampai mual dan muntah.

Serangan migrain dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti stres, perubahan cuaca, menstruasi, atau kebanyakan tidur. Gejalanya juga berbeda-beda. Ada yang ringan di satu sisi kepala, ada yang tanpa gejala, dan ada yang sangat nyeri di kedua sisi kepala.

Penyakit ini harus ditangani oleh profesional kesehatan berdasarkan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang efektif. Menurut WHO, penderita dapat diberi obat, seperti obat analgesik untuk mengurangi rasa nyeri, obat antiemetik untuk mengatasi gejala mual atau muntah, dan obat khusus antimigrain.

Alternatif lain adalah dengan olahraga. Menurut fisioterapis dan wakil ketua nasional Fisioterapi Muskuloskeletal Australia, Adnan Asger Ali, aktivitas fisik dapat membantu meredakan migrain karena tubuh melepaskan endorfin, penghilang rasa sakit alami, selama berolahraga. “Terapi fisik dapat melengkapi manajemen farmakologis migrain,” kata Ali kepada The Guardian pada 16 Januari lalu.

Sakit kepala tidak hanya menyakitkan tapi juga menjadi beban. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2016,  secara global prevalensi orang dewasa dengan gangguan sakit kepala ini sekitar 50 persen. Setengah hingga tiga perempat orang berusia 18-65 tahun pernah mengalami sakit kepala dalam satu tahun terakhir. Bahkan, dalam Studi Beban Penyakit Global, yang diperbarui pada tahun 2013, migrain menjadi penyebab keenam tertinggi dari beban penyakit karena masa-masa produktif yang hilang akibat sakit. Maka, penanganan terhadap migrain menjadi penting.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *