Arsip e-MagazineJanuari 2022Media Utama

Kebisingan yang Berbahaya

Kebisingan dapat mengganggu pendengaran secara permanen bila terpajan terus menerus. Orang perlu memahami faktor-faktor risikonya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun 2050 hampir 2,5 miliar orang diproyeksikan mengalami gangguan pendengaran pada tingkat tertentu dan setidaknya 700 juta di antaranya akan memerlukan rehabilitasi pendengaran. Bahkan, lebih dari 1 miliar orang dewasa muda usia 12-35 tahun berisiko mengalami gangguan pendengaran permanen karena praktik mendengarkan yang tidak aman yang sesungguhnya dapat dihindari. Di Amerika Serikat, misalnya, lebih dari 9 juta pekerja, dengan 5,2 juta di antara di bidang industri manufaktur, terpajan bising setiap hari.

WHO juga memperkirakan bahwa gangguan pendengaran yang tidak tertangani menimbulkan biaya global tahunan sebesar US$ 980 miliar. Ini termasuk biaya sektor kesehatan tapi tidak termasuk biaya alat bantu dengar, biaya dukungan pendidikan, hilangnya produktivitas, dan biaya sosial.

Dr. Raden Ayu Anatriera, M.P.H., Sp.T.H.T.-K.L., dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, menyebut bising sebagai suara yang berlebihan, yang tidak terasa nyaman di telinga. Menurut kriteria WHO, suara bising adalah suara di atas 85 desibel (dB). “Secara objektif kebisingan dapat diukur dengan sound level meter tapi, menurut literatur, suara kebisingan bisa juga disandingkan dengan keadaan,” kata Ayu kepada Mediakom saat ditemui di kliniknya di Depok, 21 Januari lalu.

Ayu mencontohkan tempat hiburan anak di dalam mal memiliki kekerasan suara mencapai 100 dB, tempat karaoke 125,4 dB, bioskop 126,2 dB, restoran 104 dB, dan musik di dalam angkutan kota 110 dB. “Setelah mendatangi konser musik rock atau suatu acara yang terdapat suara keras, kadang kita merasakan adanya rasa tidak nyaman di telinga atau timbul suara berdenging,” kata pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Ayu mengutip hasil penelitian Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian di beberapa tempat bermain anak pada 2017, yang menunjukkan bahwa kekerasan suara di tempat itu lebih dari 90 dB. Tapi, “Kadang kita tidak merasa ada kebisingan,” kata dia.

Toleransi kebisingan berbeda-beda tingkat intensitasnya. Untuk 100 dB, batas aman paparan hanya 15 menit. Setiap kenaikan intensitas kebisingan 5 dB akan menurunkan batas aman paparan menjadi setengahnya. Kebisingan dapat menimbulkan gangguan pendengaran yang tak dapat dipulihkan tapi dapat dicegah dengan menghindari sumber bunyi atau menggunakan alat pelindung pendengaran seperti earplug atau earmuff.

Bila orang terpapar kebisingan terlalu lama dan terus-menerus, maka akan ada gangguan pendengaran yang bersifat sementara atau tetap. Gangguan sementara itu misalnya ketika orang keluar dari tempat bising, maka pendengarannya akan normal lagi setelah 1- 2 jam. Tapi, bila orang bekerja secara rutin di tempat bising, maka ia akan mengalami gangguan pendengaran yang menetap. “Sepuluh hingga 15 tahun lagi ia akan menjadi tuli permanen,” Ayu menjelaskan.

Biasanya untuk kondisi seperti ini pekerja dibekali dengan alat pelindung pendengaran. Serikat pekerja setempat, kata Ayu, harus menilai dengan sound level meter secara teratur dan pekerjanya dites audiometri secara berkala, minimal enam bulan sekali. Ini agar ketika diketahui ada kenaikan ambang dengar pada pekerja, maka ia dapat diistirahatkan atau dibantu dengan alat pelindung.

Dari sisi non pendengaran, suara bising dapat menimbulkan kelelahan, stress yang dapat meningkatkan hormon kortisol yang dapat meningkatkan kolesterol, meningkatkan gangguan jantung, meningkatkan gangguan metabolisme, secara tidak langsung. Semua usia, menurut Ayu, dapat terpengaruh kebisingan. M

Faktor yang Mempengaruhi

Gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) bisa sebagian atau total, bersifat menetap, terjadi pada satu atau dua telinga, dari ringan hingga berat. Prevalensinya meningkat akibat dari paparan kebisingan yang terus-menerus dan juga dipengaruhi oleh peningkatan usia. Pencegahannya memerlukan pemahaman yang lebih baik mengenai prevalensi dan faktor-faktor paparan yang berkontribusi. Gangguan ini dapat disebabkan oleh impuls suara traumatik tunggal tapi lebih khas disebabkan oleh paparan berulang dari suara dengan intensitas tinggi. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut.

  • Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, intensitas kebisingan mulai dari 85 dB diperkenankan hanya dalam waktu delapan jam per hari dan pajanan bising lebih dari 140 dB tidak diperkenankan walaupun sesaat.
  • Frekuensi yang sering menyebabkan kerusakan pada Corti, organ di telinga belakang yang memiliki sel indera pendengar, adalah frekuensi 3000 hingga 8000 Hertz dan gejala timbul pertama kali pada frekuensi 4000 Hertz.
  • Pada orang usia 50 tahun ke atas, stereosilia, rambut kecil di telinga bagian dalam, sudah mengalami kerusakan akibat proses degeneratif.
  • Adanya mutasi genetik berkaitan dengan kerentanan individu tertentu terhadap pajanan bising sehingga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami GPAB.
  • Orang yang bekerja di tengah sumber bising berisiko lebih tinggi untuk menjadi GPAB karena waktu pajanan yang lebih lama.
  • Riwayat penggunaan obat-obatan yang bersifat ototoksik, seperti streptomisin, kanamisin, garamisin, dan kina.
  • Pekerja yang fungsi telinga kurang baik atau pernah dioperasi dapat mempengaruhi fungsi pendengaran.
  • Alat pelindung telinga harus  dipakai dengan baik oleh pekerja, dipantau kelayakannya secara berkala, dan kesadaran pekerja untuk selalu memakainya di saat terpajan kebisingan.
  • Pekerja yang merokok dan terpajan bising memiliki risiko empat kali lebih tinggi untuk menjadi GPAB. M

Kebisingan dapat menimbulkan gangguan pendengaran yang tak dapat dipulihkan tapi dapat dicegah dengan menghindari sumber bunyi atau menggunakan alat pelindung pendengaran.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button