Januari 2022Media Utama

Menjaga Tiga Organ

Kesehatan telinga, hidung, dan tenggorok menjadi sangat penting dalam menghadapi virus COVID-19. Apabila salah satu organ tersebut terganggu, fungsinya menjadi tidak optimal sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita.

Di tengah pandemi COVID-19, kesehatan telinga, hidung, dan tenggorok menjadi sangat krusial. Penyebaran virus COVID-19 biasanya terjadi melalui virus pada droplet atau percikan ludah yang kemudian masuk ke tubuh melalui hidung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan bahwa gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien kemungkinan mengalami sakit dan nyeri pada badan, hidung tersumbat, pilek, atau sakit tenggorokan. Dalam kasus serius, sekitar 1 dari setiap 5 orang yang terinfeksi COVID-19 mengalami kesulitan bernapas dan memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Semua gejala ini berhubungan dengan kesehatan organ telinga, hidung, dan tenggorok. Ketiga organ terhubung dalam suatu sistem sehingga gangguan pada satu organ akan berpengaruh pada organ lain. Apabila salah satu organ tersebut mengalami gangguan, otomatis fungsi yang harus dijalankannya menjadi tidak optimal sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita atau bahkan ancaman kematian.

Gangguan pada organ-organ ini bermacam-macam. Gangguan pada telinga, antara lain, adalah tuli, gangguan pendengaran akibat bising, dan sumbatan serumen (kotoran telinga). Hidung dapat mengalami sinusitis atau peradangan pada dinding sinus, rongga kecil berisi udara dan terletak pada struktur tulang wajah. Adapun gangguan pada tenggorok dapat berupa peradangan pada amandel atau tonsil dan difteri, infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas yang mengalami gangguan pendengaran sebesar 2,6 persen, ketulian 0,09 persen, sumbatan serumen 18,8 persen, dan sekret (cairan) di liang telinga 2,4 persen. Gangguan pendengaran tampaknya masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat. 

“Gangguan pendengaran mungkin tidak menyebabkan kematian tetapi mengganggu atau mengurangi kualitas hidup seseorang,” kata Pelaksana Tugas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dr. Elvieda Sariwati, M.Epid., kepada Mediakom pada Senin, 24 Januari 2022.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *