Februari 2022Media Utama

Laboratorium Nyamuk di Salatiga

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga mengoleksi beragam nyamuk dan meneliti cara pengendalian penyakit tular vektor. Menerbitkan ratusan publikasi ilmiah.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) di Salatiga, Jawa Tengah mempunyai kontribusi besar dalam studi nyamuk. Ada tiga laboratorium penunjang studi nyamuk di sini, yaitu laboratorium koleksi referensi vektor penyakit, laboratorium pengujian insektisida yang sudah terakreditasi ISO 17025, serta insektarium koloni nyamuk dan laboratorium pengendalian hayati.

Laboratorium koleksi referensi vektor penyakit memiliki beberapa fungsi, seperti mengidentifikasi serangga vektor penyakit dan pembuatan spesimen serangga vektor penyakit, identifikasi spesies kompleks pada nyamuk Anopheles. Tempat ini juga menyediakan referensi untuk materi pelatihan dan wahana ilmiah.

Menurut Triwibowo Ambar Garjito, Peneliti Muda Bidang Biologi Lingkungan B2P2VRP Salatiga, laboratorium koleksi ini juga memiliki kemampuan untuk memanfaatkan serangga referensi menjadi karya seni, seperti lukisan mozaik dari nyamuk, lalat, lipas, dll.  Laboratorium ini juga dapat melakukan reklasifikasi dan retaksonomi vektor, digitalisasi basis data nyamuk, kunci identifikasi singkat nyamuk , dan identifikasi pakan darah secara imunologi dengan teknik ELISA.

Laboratorium pengujian insektisida mempunyai kemampuan untuk menguji efikasi insektisida rumah tangga, efikasi berbagai bio-insektisida, uji resistensi vektor terhadap insektisida sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), uji resistensi secara molekuler, serta pengujian efikasi dan efektivitas insektisida program pemerintah. Adapun laboratorium insektarium koloni nyamuk memiliki kemampuan untuk memelihara dan mengembangbiakkan nyamuk Anopheline (Anopheles aconitus, Anopheles maculatus, dan Anopheles sinensis) dan Culicinae (Aedes aegypti berbagai strain, Aedes albopictus, dan Culex quinquefasciatus), baik yang rentan terhadap insektisida maupun hasil tangkapan lapangan untuk kebutuhan uji resistensi.

Balai ini juga mempunyai laboratorium pengendalian hayati. Laboratorium ini memelihara cacing Nematoda Romanomermis iyengari, Copepoda (Mesocyclops aspericonis), predator jentik instar 1 dan instar 2, jentik Toxorynchites splendens, predator jentik semua instar, serta ikan pemakan jentik dan pupa nyamuk. Balai juga mengembangkan metode, model, dan teknologi pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *