Februari 2022Media Utama

Melawan Dengue di Rumahnya

Profesor Adi Utarini dan timnya mengembangkan metode penanganan DBD dengan menggunakan bakteri wolbachia. Berhasil menurunkan angka kejadian DBD di Yogyakarta.

Kasus demam berdarah dengue (DBD) pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1968. Namun, setelah setengah abad lebih, penyakit ini tidak kunjung pergi. Di musim penghujan, DBD kembali mewabah. Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) juga belum memiliki kemampuan untuk mendeteksi virus dengue karena belum memiliki antigen khusus dengue. “Hal ini memotivasi Yayasan Tahija, Monash University, dan juga Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada meriset dengue,” kata Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D. kepada Mediakom pada Rabu, 23 Februari lalu.

Perempuan yang akrab disapa Prof Uut ini menuturkan, pada tahun 2011, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM bekerja sama dengan Monash University, Australia meneliti sejumlah serangga liar di Yogyakarta. Ternyata hampir 70 persen serangga itu mengandung wolbachia, bakteri yang lazim menginfeksi serangga. Tapi, bakteri itu ternyata tidak ada pada nyamuk Aedes aegypti pembawa virus DBD. Tim peneliti kemudian menemukan bahwa bakteri wolbachia mempunyai efek menekan perkembangbiakan virus dengue di tubuh nyamuk. 

Tim peneliti kemudian mengembangkan suatu mekanisme yang membuat virus itu tidak bisa berbiak dengan bantuan wolbachia.  “Ketika virus tidak bisa berkembang dan jumlah duplikatnya juga lebih sedikit, maka saat nyamuk itu menggigit manusia, jumlah virus denguenya menjadi sangat rendah untuk menulari manusia,” kata Utarini, yang terpilih sebagai satu dari 10 orang yang membantu membentuk sains pada 2020 versi jurnal ilmiah Nature.

Peneliti menyuntikkan bakteri wolbachia ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti yang kemudian dikembangbiakkan menjadi nyamuk dewasa yang dapat kawin dengan nyamuk lain. Bila nyamuk betina ber-wolbachia kawin dengan nyamuk jantan biasa, maka telurnya akan mengandung wolbachia semua. Kalau nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan nyamuk betina biasa, maka telurnya tidak menetas. Apabila nyamuk jantan dan betina sama-sama mengandung wolbachia, maka semua telurnya akan mengandung wolbachia. “Kalau telurnya tidak menetas, maka dia akan membantu mengurangi populasi nyamuk,” kata Utarini, yang termasuk 100 Orang Paling Berpengaruh Tahun 2021 versi Majalah Time.

Bila nyamuk ber-wolbachia di lepas di suatu daerah, maka lambat laun seluruh nyamuk di sana akan mengandung wolbachia. Dengan cara ini diharapkan maka tak ada lagi nyamuk yang membawa virus dengue.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *