Arsip e-MagazineMaret 2022Profil

Abdi Negara Siap Bertugas di Mana Saja

Ia mengatakan saat itu stafnya sempat takut karena COVID-19 sangat mudah menular. “Sempat ada yang down juga. Saya sampaikan kepada mereka, kalau bukan kita, siapa lagi? Saya juga bilang inilah saatnya menunjukkan kepada negara. Kalau ini tidak kita lakukan, kasihan masyarakat,” tuturnya. Mereka dapat memahaminya walaupun awalnya tidak gampang. Akhirnya mereka bisa menjadi tim yang solid.

Syahril menghadapi beragam kesulitan, seperti kekurangan alat pelindung diri (APD) dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer), keterbatasan ruang sehingga harus mengubah ruang biasa menjadi ruang isolasi dalam waktu singkat, kekurangan sumber daya manusia saat pasien meningkat dalam pandemi gelombang pertama pada Desember 2020, kekurangan oksigen saat gelombang kedua varian Delta, serta wafatnya perawat karena terinfeksi virus corona.

“Ketika ada perawat yang meninggal, menjadi pukulan bagi kami,” katanya. Ia bersyukur gelombang ketiga varian Omicron tidak terlalu berat seperti sebelumnya.

Mohammad Syahril lahir di Lahat, Sumatera Selatan pada 23 Juli 1962. Tamat sekolah menengah pertama (SMP) di Lahat, ia melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA) di Cianjur, Jawa Barat. Ia hanya satu tahun di sekolah itu. Naik ke kelas 2, ia pindah ke SMA di Yogyakarta hingga tamat. 

Syahril menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta pada 1988 lalu bekerja di Puskesmas Simo, Boyolali, Jawa Tengah. Pada 1998, ia mengambil sekolah spesialis paru di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Setelah lulus, ia ditugaskan menjadi Kepala Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta. 

Ia kemudian menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan, Salatiga, Jawa Tengah selama dua tahun. Pada 2013-2015, ia ditugaskan sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. Tugas berikutnya adalah Direktur Utama Rumah Sakit Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Mohammad Hoesin, Palembang selama lima tahun. Setelah itu, ia ditugaskan di RSPI Sulianti Saroso. “Pada 2021, saya pernah ditugaskan lagi di RS Persahabatan sebagai Plt Dirut,” ujar dia.

Kariernya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dimulai di Puskesmas Simo, Boyolali. Selama setahun menjadi calon PNS, ia sudah menjadi kepala Puskesmas. Ia merintis puskesmas perawatan. “Saya mulai merintis dari awalnya hanya 4 bed akhirnya menjadi 20 bed dan di sana saya juga melakukan praktik pagi dan sore sebagai dokter umum. Kemudian ketika sekolah (spesialis) tidak melakukan praktik sama sekali,” kata dia.

Syahril mengatakan awalnya tidak berkeinginan menjadi dokter karena ia berasal dari keluarga kurang mampu. Ia menyadari sekolah dokter itu mahal. Ia sempat diterima di Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan sudah membayar biaya kuliah. Ternyata ia juga diterima di Fakultas Kedokteran UNS. Keluarga memintanya memilih fakultas kedokteran. Ia kemudian merasakan asyiknya menjadi dokter.

“Dulu, pada saat saya di puskesmas, hampir tidak sekolah karena enak sekali, praktiknya banyak sehingga lupa,” tuturnya diikuti derai tawa. Pada saat ke Jakarta, ia akhirnya mengambil spesialis paru karena keluarganya ada yang memiliki asma dan ia ingin berbuat sesuatu untuknya. 

Sejak mahasiswa, Syahril gemar berorganisasi. Ia sempat mendapat penghargaan sebagai dokter teladan di zaman Presiden Soeharto. Ia memiliki hobi bermain tenis dan traveling. Namun di masa pandemi ini, ia hampir tidak bisa berekreasi karena terkendala aturan.

Pada awal bekerja di RSPI, hampir setiap hari ia bertemu wartawan. Ia tak pernah menghindar karena baginya wartawan adalah mitra. ”Saya membuat sebuah media center yang di dalamnya menyediakan kopi, dispenser, snack untuk wartawan agar tenang,” katanya.

Awalnya tidak berkeinginan menjadi dokter karena sekolah dokter mahal, Mohammad Syahril akhirnya merasakan asyiknya menjadi dokter.

Sejumlah penghargaan pernah diraih oleh rumah sakit yang ia pimpin. Di antaranya, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menobatkan RSPI sebagai rumah sakit dengan kesiapsiagaan menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia yang terbaik dan penghargaan sebagai rumah sakit yang memberikan manajemen SDM pelayanan COVID-19 terbaik. Pada akhir 2021, Syahril mendapat penghargaan sebagai pejabat pratama terbaik se Indonesia.

“Kami memiliki inovasi pelayanan COVID-19 ini bisa terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan adanya prestasi itu, kami akan membuat program bagaimana RSPI ini ke depannya menjadi rujukan nasional dan sebagai pengampu nasional agar, jika terjadi pandemi lagi, kita memiliki kesiapan,” ujarnya.

Dalam bekerja, ia menghadapi kendala paling kuat di dalam dirinya. “Karena kadang-kadang terjadi konflik dalam batin saya antara keinginan, harapan, dan kenyataan yang ada. Kalau SDM di mana-mana pasti sama, tinggal bagaimana kepintaran kita untuk me-manage SDM,” tuturnya.

Syahril berkeinginan RSPI menjadi suatu institusi seperti di Australia, Thailand, Singapura, Amerika Serikat yang dapat melakukan penelitian, menyelenggarakan pendidikan dan latihan khusus penyakit infeksi.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *