Maret 2022Resensi

Jalan Baru di Sebuah Delta

Novel terbaru Pratiwi Juliani yang mengungkap kehidupan para pekerja pembangun jalan raya. Elegan dan tak mengejar sensasi.

Salvador bekerja siang-malam bersama para buruh lain yang membangun sebuah jalan baru yang membentang di atas sebuah delta di Kota Kolagga. Salvador bangga dengan pekerjaannya dengan satu harapan: “Jalan-jalan ini tidak lama lagi akan dibuka. Kelak, anakku bisa menggunakan jalan ini, jalan yang turut dibangun Salvador, ayahnya, aku.”

Salvador adalah lelaki paling sepuh di antara para pekerja lain, yang menyapanya “Pak Tua” dengan santun. Kadang tubuh rentanya mulai diserang penyakit, batuk-batuk mulai muncul, dan matanya mulai kabur tapi dia tak pernah mau menyerah begitu saja. Dia tetap bekerja sampai malam, hingga petugas mematikan lampu-lampu.

Ketika jam kerja siang berakhir, ia dan para pekerja duduk bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil di pipa-pipa besi sebesar kaki. Mereka bergurau atau mengobrolkan apa saja. Ada pula yang membual dan berusaha memancing tawa kawan-kawannya.

Mereka akan membuka bekal masing-masing. Peter, lelaki muda bertubuh tinggi, membawa kotak plastik penuh nasi, telur rebus, dan kubis putih. Dia berbagi bekal dengan Salvador, yang hanya membawa sekantong plastik kecil nasi dan sayuran yang dibungkus koran. Salvador menerimanya sambil tertawa. Peter selalu mengingat Salvador dan mungkin menganggap Pak Tua adalah ayahnya. Sebaliknya, di mata Salvador, Peter adalah pemuda yang mengingatkannya pada Tirbiani, putranya.

Begitulah suasana keseharian para buruh pembangun jalan dalam novel Debu dalam Angin  karya Pratiwi Juliani. Pratiwi adalah perempuan pengarang muda kelahiran Amuntai pada Oktober 1991 yang mendirikan taman baca dan toko buku bekas di desanya. Buku pertamanya, Atraksi Lumba-lumba dan Kisah-kisah Lainnya, masuk dalam daftar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Dear Jane adalah novel pertamanya sebelum ia menerbitkan Debu dalam Angin.

Dalam novel ini, Pratiwi mengurai secara rinci bagaimana kehidupan para pekerja, kebahagiaan orang-orang pinggiran ini, dan juga kesedihan mereka. Dia menuturkan kisah kaum yang sering terabaikan ini secara wajar dan elegan. Tak terlihat ada dorongan pengarang untuk mengeksploitasi kemiskinan atau ketidakberuntungan mereka, misalnya, entah untuk mengejar sensasi tertentu atau apa. Kita bisa membaca bahwa kehidupan mereka sama saja dengan kelompok masyarakat lain. Mereka kadangkala lelah atau bosan, lalu pengen berlibur, menonton karnaval, atau sekadar jalan-jalan. Mereka ingin membeli jas yang bagus atau topi yang keren tapi enggan mengeluarkan duit yang terbatas.

Setting cerita novel ini tidak kentara apakah berada di Indonesia atau negeri asing. Pengarang hanya menyebut beberapa nama kota, seperti Kolagga, Kukis, dan Mortal, yang tampaknya fiktif. Nama-nama tokoh juga terkesan asing, seperti Salvador, John, Peter, dan Tirbiani, meskipun nama semacam itu lazim digunakan di beberapa daerah di Indonesia.

Salah satu kalimat yang menunjukkan lebih terang bahwa setting novel ini berada di negeri asing muncul di bagian pertengahan: “Ia telah melalui masa keemasannya: anggur dan vodka terbaik, tembakau dari tanah-tanah jajahan, gulungan uang kertas memenuhi saku jasnya”. Anggur dan vodka adalah barang impor bagi Indonesia tapi mudah ditemukan di tanah Eropa atau Amerika. Frasa “tembakau dari tanah-tanah jajahan” mengindikasikan latar waktu novel ini terjadi pada atau setelah masa kolonial, ketika kebun-kebun tembakau ditanam penjajah di tanah jajahannya.

Meskipun, katakanlah, latar cerita ini memang terjadi di negeri asing atau dunia antah berantah, hal tersebut sebenarnya tak terlalu mempengaruhi pokok cerita novel ini, kecuali dalam membangun latar budaya dan waktunya. Kisah para buruh yang membangun jalan raya bisa terjadi di mana saja, bukan? Barangkali itulah yang membuat latarnya tidak eksplisit disebutkan oleh pengarang. Bahkan, bagaimana jalan itu dibangun dan siapa kontraktornya juga tidak menjadi perhatian pengarang.

Pratiwi lebih berfokus pada perilaku para buruh, terutama tokoh Salvador, serta kenangan dan harapannya. Salvador selalu merindukan putranya, Tirbiani. Dia membayangkan Tirbiani sebagai pemuda yang gagah dan menjadi anggota Dewan Kota. Dia berkhayal bahwa pada suatu hari nanti Tirbiani akan melintasi jalan di delta itu “dengan kacamata hitam atau dengan sebatang pipa dari tanduk rusa berisi tembakau wangi di bibirnya, mengendarai mobil bagus hijau tua yang bannya terlihat seperti malam yang gelap sebab selalu disemir”.

Hubungan Salvador dan Tirbiani hanya kita ketahui dan penuturan Salvador. Itu pun sepotong-sepotong, berlintasan di antara hal-hal yang memancing ingatan Salvador. Kita tak tahu apakah Tirbiani yang diharapkan akan ditemui Salvador ketika pulang dari delta dengan melintasi pasar itu benar-benar ada? Tak ada yang tahu tentang Tirbiani. Peter dan rekan-rekan Salvador lain juga tak tahu. Tapi, kita tahu bahwa Salvador sangat menyayangi Tirbiani dan berharap banyak pada pemuda itu. Dan, itu membuat kita berharap akan menemukan jawabannya di bagian lain cerita ini.

Novel yang ditulis tanpa pembagian bab ini mengalir mengikuti langkah-langkah Salvador. Ini kisah tentang sepenggal kehidupan para pekerja tapi tidak melankolis atau mengharu biru. Sebuah kehidupan orang-orang dewasa yang relatif landai, tanpa banyak tikungan drastis atau perubahan karakter tokohnya, tapi kita bisa menemukan perjuangan seorang lelaki tua yang matang melihat dunia. M

Judul: Debu dalam Angin

Pengarang: Pratiwi Juliani

Edisi: Cetakan pertama, Desember 2020

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Tebal: 131 halaman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *