Maret 2022Media Utama

Ketagihan Nusantara Sehat

Hajrah mengaku ketagihan mengikuti program Nusantara Sehat. Daerah terpencil itu tidak semengerikan yang orang awam bayangkan.

Hajrah, pria 34 tahun asal Kabupaten Fakfak, Papua Barat,  mengaku ketagihan mengikuti program Nusantara Sehat. Sejak 2015, ia sudah tiga kali mengikuti program ini karena jiwa petualangnya yang tinggi dan rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru. “Dengan mengikuti Nusantara Sehat saya dapat teman dan keluarga baru,” kata dia. “Saya juga tidak memungkiri bahwa gaji yang didapat oleh teman-teman Nusantara Sehat jumlahnya lumayan dibandingkan standar gaji di daerah,” kata Hajrah kepada Mediakom, Kamis, 24 Maret lalu.

Menurut Hajrah, daya tarik lain bagi para tenaga kesehatan untuk mendaftar di Nusantara Sehat adalah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa setelah bertugas selama dua tahun. Sebenarnya ia juga berencana mengikuti program beasiswa setelah penempatan terakhir, tetapi nasib berkata lain. Dia diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Maluku sehingga harus menunda rencananya tersebut.

Awal Mula

Hajrah mendaftar sebagai calon peserta Nusantara Sehat angkatan pertama pada 2015. Saat itu dia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Samarinda. Dia tidak lulus karena berkas administrasinya tidak lengkap. “Ketika saya kembali ke Papua, saya langsung lengkapi berkas dan mendaftar Nusantara Sehat angkatan kedua. Alhamdulillah lulus,” ujar Hajrah.

Hajrah pertama kali ditempatkan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara selama 2015-2017. Dia kemudian dikirim ke Puskesmas Timpah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah selama 2017-2019. Terakhir, selama 2019-2021, dia ditaruh di Puskesmas Masalle, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Sebagai sanitarian, Hajrah lebih banyak turun ke lapangan. Ia membantu program Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM), yang bertujuan untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak buang air besar (BAB) sembarangan. Ia mengakui bahwa masih banyak masyarakat di daerah yang melakukan BAB tidak pada tempatnya. “Masyarakat lebih suka BAB sembarangan. Setelah melakukan kegiatan pemicuan atau tidak, saya tetap akan mendatangi langsung mereka, bermuka-muka, dan menjelaskan bahayanya, yaitu membahayakan diri sendiri dan tetangga,” kata dia. Hajrah juga kerap membantu kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu) bersama tenaga puskesmas lainnya.

Pengalaman Tak Terlupakan

Menurut Hajrah, lokasi paling menantang baginya adalah Puskesmas Timpah, terutama kondisi geografisnya. “Kalau mau turun ke daerah yang berada di pinggiran Sungai Kapuas, kami harus menyusuri sungai menggunakan perahu kecil. Jadi, kalau ada kegiatan posyandu, kami harus menyeberangi sungai yang tidak tahu ada buayanya atau tidak. Di dalam kapal kami tidak boleh banyak bergerak karena berisiko perahu terbalik,” kata Hajrah.

1 2Laman berikutnya

Utami Widyasih

Abdi Negara, Ibu satu anak, Gemar memasak

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button