April 2022Media Utama

Indonesia Menjadi yang Pertama

Belum ada negara di dunia yang memiliki sistem kesehatan yang terintegrasi secara nasional. Indonesia bisa menjadi negara pertama.

Kementerian Kesehatan akan melakukan transformasi digital kesehatan yang diharapkan dapat terealisasi pada tahun 2024. “Kami ditargetkan pada tahun 2024 telah mengintegrasikan data kurang lebih 60 ribu fasilitas kesehatan, mulai dari apotek, laboratorium, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), hingga rumah sakit dan klinik,” ujar Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan, Setiaji, S.T., M.Si., kepada Mediakom pada Senin, 18 April lalu.

Menurut Aji, sapaan akrab Setiaji, untuk mewujudkan hal tersebut, dia terlebih dahulu mempelajari sistem kesehatan di beberapa negara, seperti Australian Digital Health Agency di Sydney, New South Wales, Australia. New South Wales sudah mengembangkan layanan kesehatan digital sejak 2016 tapi cakupannya baru sebatas negara bagian tersebut. Layanan itu hanya bisa diakses oleh 20 juta orang dan bekerja sama hanya dengan sembilan rumah sakit saja. Sistem kesehatan Amerika Serikat juga tidak bersifat nasional. Hal yang sama juga terjadi di negara-negara ASEAN, kecuali Singapura, yang sistem layanan kesehatannya masih terbatas di tingkat daerah.

“Kalau Indonesia menjalankan ini, maka sistem ini satu-satunya di dunia yang bisa menggabungkan seluruh provinsi sehingga kita bisa punya (cakupan) nasional,” kata Setiaji, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Jawa Barat. “Negara-negara lain ada, tapi baru di kotanya atau lingkupnya kecil. Kalau untuk lingkup nasional baru Indonesia.”

Setiaji mengakui bahwa wilayah Indonesia sangat luas sehingga dibutuhkan infrastruktur yang memadai agar rencana ini dapat terwujud. Salah satunya adalah dengan melibatkan kementerian lain untuk melancarkan program ini.

“Bakti Kominfo akan menyiapkan penguatan jaringan di daerah-daerah yang blind spot atau daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Kami meminta mereka untuk membantu untuk menyiapkan infrastruktur sehingga daerah-daerah yang tidak memiliki akses Internet bisa dapat (akses),” ucap Setiaji.

Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan juga digandeng untuk mendukung program ini karena. fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit dan puskesmas, yang telah terhubung dengan BPJS care (Pcare) akan dihubungkan langsung ke dalam sistem kesehatan digital. Selain itu, aplikasi juga dibuat mudah dan praktis sehingga dapat digunakan meskipun tidak terhubung dalam jaringan Internet.

“Aplikasinya ada yang kita buat modelnya offline dan online. Untuk offline dicatat dulu di dalam telepon genggam. Begitu ada akses Internet, itu datanya bisa disinkronkan dengan kami,” kata Setiaji.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button