April 2022Media Utama

Membangun Sistem Layanan Kesehatan Digital

Kementerian Kesehatan tengah mengembangkan sistem layanan kesehatan berbasis teknologi informasi. Setiap orang nantinya akan memiliki rekam medis pribadi.

Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran bagi Indonesia bahwa untuk mengatasi persoalan kesehatan masyarakat, selain upaya pencegahan dan penanganan yang tepat, juga memerlukan dukungan teknologi. Dengan begitu, para pengambil kebijakan dapat merumuskan langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan informasi dan data yang tepat dan akurat. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan saat ini tengah berupaya membangun sistem layanan kesehatan digital.

“Pak Menteri bilang, mengapa COVID-19 kita bisa memiliki data real time? Mengapa tidak untuk penyakit yang lainnya? Kuncinya, kami mengintegrasikan seluruh data-data layanan kesehatan. Jadi, sifatnya bukan pelaporan tetapi layanan kesehatan yang dicatat saat orang melakukan layanan. Pencatatannya ada di rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas),” kata Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan, Setiaji, S.T., M.Si., kepada Mediakom pada Senin, 18 April lalu.

Langkah tersebut dirintis sejak Maret 2021 dengan membentuk Digital Transformation Office (DTO), yang sistem kerjanya mengadopsi perusahaan rintisan (start-up) dan bahkan para personelnya, yang saat ini berjumlah 140 orang, juga memiliki pengalaman bekerja di sejumlah perusahaan rintisan Indonesia. Ditargetkan, pada tahun 2024, Indonesia sudah mampu mewujudkan sistem layanan kesehatan berbasis teknologi informasi.

Agar target tersebut dapat terealisasi, sejumlah tahapan telah dirumuskan, yang di antaranya dengan mengembangkan integrasi data kesehatan berbasis individu. Menurut Aji, sapaan akrab Setiaji, saat ini data kesehatan masyarakat tersebar di mana-mana, dari fasilitas pelayanan kesehatan, apotek, laboratorium, hingga dinas kesehatan daerah. Selain itu, data yang ada saat ini juga sifatnya agregat sehingga sulit bila digunakan untuk keperluan lain.

Langkah lain yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan aplikasi-aplikasi yang telah dibuat oleh Kementerian Kesehatan, rumah sakit, maupun fasilitas layanan kesehatan di daerah. Selama ini, aplikasi itu memberikan beban yang sangat besar kepada tenaga kesehatan untuk sekadar mengisi laporan. “Padahal, tugas utamanya kan melayani. Oleh karena itu, kami menyederhanakan aplikasi tersebut. Aplikasi yang sejenis akan kami gabungkan dan kemudian kami coba sederhanakan sehingga akan ada beberapa aplikasi saja,” kata Setiaji, pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Jawa Barat.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan juga tengah menyiapkan kurikulum bagi para tenaga kesehatan agar dapat menggunakan aplikasi yang telah terintegrasi dengan mudah. Setiaji mengatakan, ke depannya aplikasi Peduli Lindungi, yang sudah diunduh oleh 92 juta orang, akan berperan tidak hanya dalam urusan COVID-19 tapi juga menjadi sarana layanan kesehatan masyarakat, seperti penjadwalan imunisasi anak hingga penerbitan sertifikat bagi anak yang telah mendapat imunisasi dasar.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button