April 2022Arsip e-MagazinePeristiwa

Pendidikan Inklusif bagi Anak dengan GSA

Direktorat Kesehatan Jiwa menyelenggarakan webinar Peduli Gangguan Spektrum Autisme (GSA) bagi Masyarakat untuk memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia, Rabu, 20 April 2022. GSA adalah masalah kesehatan jiwa yang cukup banyak terjadi pada anak-anak. Direktur Kesehatan Jiwa, R. Vensya Sitohang, mengatakan WHO memprediksi 1 dari 160 anak-anak di dunia menderita GSA. Adapun menurut data Badan Pusat Statistik, penderita gangguan autisme di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa pada 2010. 

“Pada tahun itu jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,5 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,14%. Jumlah penderita GSA di Indonesia diperkirakan meningkat sekitar 500 orang setiap tahun,” kata Vensya saat membuka webinar. Selama 2020-2021, ada 5.330 kasus gangguan perkembangan pada anak, termasuk GSA, yang mendapat layanan di puskesmas. 

GSA adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan adanya gangguan dan kesulitan untuk berinteraksi sosial, berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal, serta gangguan perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan stereotipe.

“Terminologi spektrum digunakan karena gejalanya bervariasi dari yang ringan sampai berat,” kata Vensya.

Ia menyebutkan keluarga, tenaga kesehatan, dan orang-orang di sekitar anak dengan GSA terkadang tak mengenali gangguan ini dan tak jarang terlambat mendeteksinya. Sebagian besar anak dengan GSA sudah menunjukkan gejala sejak dini, sehingga bisa didiagnosis sebelum usia 2 tahun. Namun sebagian besar didiagnosis setelah usia 4 tahun. 

Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia 2022 dengan tema “Pendidikan Inklusif yang Berkualitas untuk Semua” merupakan momen yang tepat untuk mendukung kesetaraan dan memberikan perhatian kepada orang dengan GSA. Pendidikan inklusif diharapkan dapat memenuhi haknya memperoleh pendidikan berkualitas dan mengembangkan potensinya.

Ketua Dharma Wanita Kemenkes Ida Budi Gunadi Sadikin mengatakan penyebab GSA belum diketahui secara pasti. Namun, dari beberapa kasus, penyebabnya antara lain faktor keturunan (genetik); pengaruh lingkungan seperti polusi udara dan air atau konsumsi obat tertentu; kondisi kesehatan tertentu seperti prematur, kehamilan di usia tua, down syndrome; kondisi psikologis ibu yang tak stabil di masa kehamilan; serta faktor biologis, psikologis, dan sosial yang tak menguntungkan sejak dalam kandungan, balita, hingga remaja.

Melly Buddiman dari Yayasan Autis Indonesia mengatakan anak dengan GSA dan keluarganya sering mendapatkan stigma negatif, seperti ditolak di sekolah tertentu dan tempat bermain anak karena khawatir membahayakan anak lain, ditolak menjadi nasabah perusahaan asuransi, dan ditolak menjadi pegawai meski memiliki keahlian dan keterampilan.

Ia menuturkan saat ini sekolah sudah mulai mau menerima anak dengan GSA, guru-guru mulai mendapat pendidikan khusus, dan beberapa sekolah sudah memiliki psikolog untuk memantau perkembangan anak.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button