April 2022Media Utama

Tiga Tahap Transformasi

Transformasi digital kesehatan dilakukan dengan mengubah Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi, digitalisasi pelayanan kesehatan, dan pembentukan Satu Data Kesehatan.

Pandemi COVID-19 dan perkembangan teknologi mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk berbenah diri dalam mengubah mindset atau cara kerja dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam cetak biru Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024 disebutkan bahwa tantangan utama dalam membangun data kesehatan nasional adalah lebih dari 80 persen fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia belum tersentuh teknologi digital; memiliki data yang terfragmentasi dan tersebar pada ratusan aplikasi sektor kesehatan yang bervariasi; serta masih terbatasnya regulasi dalam hal standardisasi, perlindungan, dan interoperabilitas data.

Permasalahan serupa juga terjadi pada pelayanan kesehatan tingkat dasar dan rujukan. Data kesehatan, termasuk rekam medis pasien, sulit diakses oleh tenaga kesehatan dan pihak lain yang membutuhkan secara real time. Hal ini disebabkan rumitnya administrasi dan banyaknya aplikasi yang digunakan. Data yang ada juga tidak terstandardisasi dan tidak terintegrasi sehingga banyak yang tumpang tindih. Transformasi digital kesehatan diharapkan dapat menjadi terobosan untuk membenahi sektor kesehatan di Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, dr. Azhar Jaya, S.K.M., M.A.R.S., menerangkan mengenai rancangan transformasi digital pada layanan kesehatan primer dan rujukan. Solusi ini akan menyasar 10.260 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), 17.209 klinik/dokter praktik mandiri, dan 2.985 rumah sakit. Ada tiga tujuan utama perubahan ini, yakni memudahkan pelayanan, memperlancar perpindahan berbagai data, dan mendukung pengambilan kebijakan kesehatan berbasis bukti.

Proses perubahan ini dilakukan secara bertahap. Tahap pertama dengan mengubah Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (Sisrute), sistem rujukan terpadu dari puskesmas ke rumah sakit-rumah sakit rujukan. “Transformasi digital di fasilitas kesehatan dimulai dari memperbaiki sistem rujukan berdasarkan aplikasi,” kata Azhar, yang juga mantan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta.

Dengan perbaikan Sisrute, menurut Aco, panggilan akrab Azhar, pasien dan rumah sakit atau puskesmas tidak akan lagi direpotkan untuk mencari fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut yang dibutuhkan. Pasien atau keluarganya tidak perlu mencari-cari sendiri kamar perawatan dan tenaga kesehatan yang tersedia di rumah sakit rujukan yang dituju. Mereka juga tidak perlu membawa-bawa berkas data pasien dari satu fasilitas pelayanan kesehatan ke fasilitas lain. Ini karena puskesmas hingga rumah sakit pratama dan rumah sakit tingkat yang lebih tinggi akan saling terkoneksi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button