April 2022Resensi

Ustaz di Kampung Terkacau di Dunia

Novel Arafat Nur yang menjadi semacam sebuah alusi dari sejarah Nabi Muhammad saat mengislamkan penduduk Mekah. Penuh humor dan lagu-lagu dangdut.

Parengan mungkin desa paling “kacau” di dunia. Desa ini terletak di dekat jalan raya antara desa Panggoro dan Anyaran tapi jauh dari kota mana pun. Entah di mana persisnya desa itu berada. Satu-satunya petunjuk adalah bahwa desa ini berada di Pulau Jawa—pengarang secara eksplisit menyebutnya—dan beberapa penduduknya bernama seperti lazimnya orang Jawa, seperti Handoko dan Kasirun.

Begitu pelosoknya desa ini sehingga radio hanya bisa menangkap satu stasiun. Sinyal telepon genggam juga tak ada. Satu-satunya televisi berada di balai desa dan tak pernah menyala karena tak bisa menangkap satu pun siaran meskipun dipasang parabola. “Aneh sekali memang, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskannya, selain Tuhan,” tulis pengarangnya.

Benda elektronik paling canggih adalah radio transistor yang hanya mampu menangkap siaran Radio Cokro FM. Stasiun pemancar radio ini hanya memutar lagu-lagu dangdut, dari remix hingga koplo, serta iklan-iklan seputar masalah alat kelamin lelaki dan perempuan. Maka, entakan musik dangdut dari radio di bengkel motor milik Sutris menjadi satu-satunya hiburan yang membuat desa itu hidup. Bila radio itu tidak menyala, desa itu seakan menjadi kampung mati.

Parengan digambarkan sebagai desa yang miskin. Sebagian besar warganya petani atau peternak. Untuk hidup sejahtera, para perempuan menjadi babu di kota atau pekerja migran di Malaysia atau Singapura. Beberapa gadis memilih jadi penghibur di desa tetangga karena berwajah cantik, kulitnya terang, dan bertubuh molek. Di Parengan pun gadis-gadis ini senang berbaju ketat dan bercelana sangat pendek.

Perempuan genit dan lelaki mata keranjang adalah pemandangan jamak di desa ini. Ada istri yang menjadi pekerja migran kemudian minta cerai karena kecantol pria di negeri seberang. Ada suami yang gonta-ganti kekasih atau minggat dari desa karena istri yang cerewet.

Pokoknya, kekacauan di desa ini bermacam warna. Dan, yang paling “kacau” adalah hampir tidak ada “rahasia” di Parengan. Penduduk mandi telanjang di sungai, yang menjadi kebiasaan sejak zaman nenek moyang. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Tak ada yang merasa risi melakukannya.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button