Media UtamaMei 2022

Antisipasi Sengatan Panas

Kementerian Kesehatan memastikan semua calon haji memenuhi syarat vaksinasi COVID-19 dan syarat lain untuk berhaji. Waspada heat stroke karena suhu tinggi di Arab Saudi.

Apa saja yang membedakan pelaksanaan ibadah haji tahun ini dan persyaratan yang harus dipenuhi para calon haji? “Banyak hal yang harus diperhatikan terkait haji, terutama haji di tahun 2022,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, dr. Budi Sylvana, M.A.R.S., kepada Mediakom, Senin, 30 Mei lalu. “Pertama, pandemi COVID-19 belum selesai. Jemaah kami minta divaksin minimal dua kali dan kalau sudah waktunya kami minta untuk di-booster.”

Calon haji tahun ini harus berusia di bawah 65 tahun, telah mendapat vaksin COVID-19 lengkap atau minimal dua dosis, dan hasil negatif tes reaksi rantai polimerase (PCR) yang dilakukan 3×24 jam sebelum keberangkatan. Selain itu, persyaratan haji tahun-tahun sebelumnya, seperti telah mendapat vaksin meningitis, juga masih berlaku.

Budi meminta para calon haji untuk terus menggunakan masker dan menerapkan protokol kesehatan selama berada di Tanah Suci. “Banyak penyakit lain yang terkait dengan mass gathering itu wajib diantisipasi, seperti Mers-CoV dan penyakit lain. Sehingga, jemaah kami sarankan untuk tetap menjalankan protokol kesehatan. Tetap memakai masker meskipun penggunaan masker di Saudi sudah dilonggarkan,” ujarnya.

Apabila calon haji memiliki gejala COVID-19, Kementerian Kesehatan akan bekerja sama dengan pemerintah Saudi. “Mereka harus menjalani tes PCR dan itu hanya dapat dilakukan di rumah sakit Saudi. Kalau pasien COVID-19 dengan gejala berat, mereka dirawat di rumah sakit Saudi,” ucap Budi.

Pada Kamis, 2 Juni lalu, Budi menggelar jumpa pers mengenai kebijakan tentang tes PCR. Budi menjelaskan, jemaah yang mau berangkat ke Arab Saudi dengan hasil tes PCR positif akan mengalami penundaan pemberangkatan dan akan diikutkan pada kloter berikutnya. “Namun, jika pada hari terakhir mereka belum sembuh, maka secara otomatis mereka tidak bisa diberangkatkan dan kemungkinan akan diikutkan pada tahun berikutnya,” kata dia.

Budi mengatakan, saat ini cuaca di Arab Saudi cukup panas dan bahkan suhu bisa mencapai 50 derajat Celcius sehingga menyebabkan jemaah rentan mengalami dehidrasi dan terserang heat stroke (sengatan panas). Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Kesehatan memiliki strategi khusus.

“Khusus selama menghadapi musim panas ini kami punya tagar #jangantungguhaus. Fungsinya apa? Ia nanti akan membangkitkan awareness (kepedulian) semua pihak karena di sana suhunya sangat tinggi dan kelembapan rendah sehingga orang merasa tidak dehidrasi padahal dia sudah dehidrasi,” kata Budi, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Krisis Kesehatan.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button