Kilas InternasionalMei 2022

ASEAN Memperkuat Sistem Darurat Kesehatan

Pertemuan para menteri kesehatan ASEAN menghasilkan standar protokol kesehatan dan pendirian Pusat Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Menular ASEAN.

Kementerian Kesehatan menjadi ketua bersama penyelenggaraan pertemuan menteri kesehatan se-ASEAN ke-15 (AHMM) di Nusa Dua, Bali pada 11-15 Mei lalu. Kegiatan ini memiliki dua pertemuan utama, yaitu Senior Officials Meeting on Health Development (SOMHD) yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, dan AHMM yang dipimpin langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Peserta pertemuan adalah para menteri kesehatan dan pejabat senior dari sembilan negara anggota ASEAN. Mereka adalah Pengiran Anak Md. Khalifah bin Pengiran Anak Ismail, wakil dari Kementerian Kesehatan Brunei Darussalam; Hok Kimcheng dari Kementerian Kesehatan Kamboja; Chanthanom Manitihip dari Kementerian Kesehatan Laos; Datuk Norhayati binti Rusli dari Kementerian Kesehatan Malaysia; Lyn James dari Kementerian Kesehatan Singapura; Pongsadhorn Pokpermdee dari Kementerian Kesehatan Thailand; Dang Quang Tan dari Kementerian Kesehatan Vietnam; Maria Soledad Antonio dari Kementerian Kesehatan Filipina; dan Myint Myint Thant dari Kementerian Kesehatan Myanmar.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh wakil negara Cina, Jepang, dan Korea. Ada pula Loyce Pace dari Kementerian Kesehatan Amerika Serikat, perwakilan Kantor Regional WHO untuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat (SEARO-WPRO), dan Ferdinal M. Fernando, Asisten Direktur dan Kepala Divisi Kesehatan Sekretariat Jenderal ASEAN.

Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama ASEAN mengenai standar protokol kesehatan yang nantinya dapat digunakan di negara anggota. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menganalogikan protokol kesehatan tersebut dengan paspor.  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa pandemi COVID-19 telah mendorong setiap negara memiliki standar protokol  kesehatan yang beragam dan kerap menyulitkan pelaku perjalanan lintas negara. Untuk itu, sektor kesehatan di kawasan ASEAN menggagas paspor vaksinasi berbasis digital sebagai satu standar yang bisa dikenal, diakui, dan dipercaya oleh seluruh negara.

Budi juga menambahkan bahwa konvergensi teknologi digital untuk paspor vaksin hingga saat ini telah diterima oleh Uni Eropa dan direncanakan berlaku secara global di seluruh negara. “Nanti, rencananya kita akan bekerja sama dengan negara-negara G20. Mudah-mudahan inisiatif dari ASEAN ini bisa melakukan konvergensi teknologi digital,” katanya dalam rilis Kementerian Kesehatan.

Dalam pertemuan itu, para menteri kesehatan se-ASEAN juga menyetujui pendirian Pusat Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Menular ASEAN (ACPHEED). “Kami setuju untuk membentuk ACPHEED. Intinya adalah pusat kerja sama ASEAN untuk menghadapi potensi adanya outbreak pandemi ke depan,” kata Budi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button