Mei 2022Resensi

Cita Muazin dan Bahtera Nuh Impian

Kumpulan cerita pendek Muazin Pertama di Luar Angkasa karya Kiki Sulistyo ini mengajak pembaca berfantasi bebas dan bersilangan dengan dongeng dan kisah kitab suci.

Bapak hendak membangun sebuah rumah. Rumah yang sangat besar di atas tanah warisan leluhur yang sangat luas. Ide ini ditentang keras Kunan, putra sulungnya, yang lebih menginginkan agar lahan itu dijadikan perumahan yang bisa mereka sewakan kepada para pekerja yang datang dari lain kota. Seperempat lahan itu dijadikan perumahan saja sudah cukup untuk membuat mereka hidup santai dari hasil menyewakan rumah-rumah itu.

Tapi, bapak tetap hendak membangun satu rumah saja. Lantai paling atas akan menjadi tempat berbagai jenis burung sehingga mereka bebas untuk terbang, membuat sarang, tidur, atau bertelur. Lantai tengah akan diisi hewan-hewan lain, mirip kawasan cagar alam. “Dan kita; aku, ibu kalian, dan kalian semua akan tinggal di lantai paling bawah,” kata bapak.

Kunan protes. “Bapak sudah gila! Membayangkan rumah seluas itu saja hampir tak masuk di akal saya, apalagi membayangkan semua binatang tinggal bersama,” katanya. Dia berkukuh agar bapak membangun perumahan saja daripada rumah besar tunggal. Tapi, tiga saudaranya yang lain punya pandangan berbeda dan mendukung rencana sang bapak.

Si bungsu, yang aktivis lingkungan, menilai gagasan itu mulia karena manusia sudah terlalu banyak merusak hutan sehingga membuat banyak spesies punah dan pembangunan gila-gilaan menimbulkan pemanasan global. Putra ketiga, yang bekerja di Badan Penanggulangan Bencana, menyambar dengan menilai bahwa daerah itu rawan bencana sehingga rumah itu bisa jadi tempat berlindung bila banjir datang. “Sebagai khalifah, pemimpin di muka bumi, manusia harus bisa menjaga alam, bukan merusaknya,” kata putra kedua, seorang guru agama.

Begitulah. Akhirnya bapak dan ketiga anaknya sibuk merancang rumah besar yang diidam-idamkan itu. Setelah 80 hari bekerja, akhirnya rancangan itu jadi: sebuah rumah yang berbentuk seperti perahu yang sangat besar. Sebuah perahu raksasa yang bisa mengangkut banyak bibit tanaman dan hewan.

Demikianlah cerita pendek “Bahtera Nuh” yang termuat dalam buku terbaru Kiki Sulistyo, Muazin Pertama di Luar Angkasa. Kiki secara eksplisit menunjukkan bahwa ceritanya adalah alusi dari kisah bahtera Nabi Nuh yang dituturkan di berbagai kitab suci itu. Kisah bahtera yang mengangkut hewan dan tumbuhan yang selamat dari banjir bandang itu telah mengilhami lahirnya sejumlah karya fiksi, seperti puisi, novel, dan film. Amir Hamzah dan Subagio Sastrowardojo, misalnya, pernah menulis puisi dari kisah itu. Pengarang Inggris menulis sejumlah novel yang berhubungan dengan itu, seperti Not the End of the World karya Christopher Brookmyre, The Book of Dave karya Will Self, There is No Dog karya Meg Rosoff, Boating for Beginners karya Jeanette Winterson, dan The Book of Mrs Noah karya Michèle Roberts.

Cerita pendek Kiki ini membumikan kisah bahtera Nuh itu ke alam kontemporer dengan memasukkan masalah lingkungan, konservasi, dan bencana alam. Dengan cara ini, Kiki membuat ceritanya menjadi lebih aktual dan dekat dengan pembaca sekarang. Yang berbeda, Kiki mengakhiri kisahnya sampai rancangan rumah kapal itu jadi, bukan sampai banjir besar tiba dan mengangkat bahtera itu berlayar seperti banyak ditulis pengarang lagi. Anda, pembaca, silakan berkhayal bagaimana kelanjutan rumah besar bapak itu. Apakah bah benar-benar datang, seperti kisah Nuh, atau malah tidak terjadi apa-apa.

Kiki memang tampak jujur dalam membangun struktur ceritanya. Dia tampak tak ingin memaksakan akhir tertentu dari ceritanya. Misalnya pada “Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang”. Kita dapat menangkap bahwa cerita itu adalah variasi dari dongeng Cinderella dan sepatu kacanya. Bagian akhirnya “menggantung”. Ketika Paski, tokoh utamanya, pulang ke rumahnya dengan memakai sepatu kaca sebelah bersama Tukang Sol Sepatu, yang baru dia angkat menjadi suaminya, mereka bertemu dengan ayah Paski bersama seorang pemuda rupawan, yang ternyata calon suaminya yang datang membawa sebelah sepatu kaca yang pas sekali di kaki Paski. Jadi, bagaimana akhirnya?

“Keheningan tiba-tiba meraja,” tulis Kiki. Lalu, dengan santai dia mengakhiri cerita dengan menyatakan, “Keheningan semacam ini memang sering muncul di kepala pengarang yang tak tahu bagaimana mengakhiri cerita yang sudah telanjur ditulisnya.” Begitu saja. Kiki mungkin sedang bercanda atau membiarkan pembaca meneruskan sendiri ceritanya.

Pembaca akan menemukan akhir cerita lain pada “Muazin Pertama di Luar Angkasa”, yang dijadikan judul buku. Cerita pendek ini mengisahkan seorang tokoh tanpa nama yang sangat ingin menjadi muazin sejak kecil. Dia sangat sendang mendengar suara azan dan merasa azan telah membuatnya hidup. Tapi, cita-cita sederhana itu mustahil digapainya, bahka hingga ajal menjemputnya.

Cerita ini berakhir dengan pengungkapan mengapa dia tak bisa menjadi muazin. “Mungkin saat aku lahir Ibu ingin sekali membisikkan azan di telingaku, tapi itu tak mungkin. Jadi pasti Ayah yang melakukannya,” kata Adzani, putri tokoh utama ini. Kejutan sederhana bahwa sang tokoh adalah perempuan ini menjelaskan mengapa dia tak bisa menjadi muazin, yang hanya diperankan oleh lelaki dalam agama Islam.

Cara bercerita dengan pengungkapan identitas di akhir cerita seperti ini sangat mungkin dilakukan dalam bahasa Indonesia, yang penyebutan “ia” tidak merujuk pada jenis kelamin tertentu. Aspek kebahasaan ini khas dalam tata bahasa Indonesia. Teknik ini tak bisa dilakukan dalam bahasa yang subjek orang ketiga tunggalnya selalu menunjukkan jenis kelamin tertentu seperti dalam bahasa Inggris atau Jerman. Dalam hal ini, Kiki memaksimalkan aspek kebahasaan dari kata “dia” dalam ceritanya.

Kiki Sulistyo dikenal sebagai penulis puisi dan cerita pendek. Lelaki kelahiran Kota Ampenan, Lombok ini telah melahirkan kumpulan cerita pendek Belfegor dan Para Penambang (2017). Karyanya tersebar di berbagai media massa dan sehari-hari dia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Ada 17 cerita pendek dan satu cerita yang berisi tiga cerita ringkas, yang lazim disebut fiksi mikro, pada buku ini. Cerita-ceritanya fantastis dan bercampur dongeng di sana-sini. Kiki seakan membiarkan imajinasinya bebas dalam membangun tokoh dan cerita. Ceritanya ringan dan sederhana tapi terlihat kemampuan bahasa dan keterampilannya dalam bercerita.

Judul: Muazin Pertama di Luar Angkasa

Penulis: Kiki Sulistyo

Eidisi: Cetakan Pertama, Desember 2021

Penerbit: DIVA Press

Tebal: 140 halaman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button