Mei 2022Serba Serbi

Revolusi Jam Tangan

Arloji awalnya dikenakan di leher dengan menggunakan rantai. Persepsi bahwa jam tangan sebagai investasi tetap populer hingga hari ini.

Di awal kemunculannya, jam tangan tidak dikenakan di pergelangan tangan tetapi disematkan di leher. Seiring dengan waktu, jam tangan kemudian disimpan dalam saku dan terus menjadi mode di masyarakat hingga kemudian menunjang aktivitas sehari-hari sebagai alat pengukur detak jantung dan alat komunikasi.

Bagaimana proses revolusi jam tangan terjadi dari masa ke masa, berikut ini rangkumannya yang dikutip dari laman racked.com:

Masyarakat mengenal arloji untuk pertama kalinya pada abad ke-16 di mana pembuat jam asal Jerman, Peter Hanlein, menyatakan pada zaman itu arloji dikenakan di leher dengan menggunakan rantai. Namun diyakini bahwa contoh asli jam tangan benar-benar muncul di Italia pada akhir abad ke-15.

“Terlepas dari asal-usul jam tangan yang diperdebatkan, ada konsensus bahwa jam tangan sering kali berfungsi lebih sebagai hiasan daripada pencatat waktu yang akurat, dan dikenakan di leher, diikat ke pakaian, atau disematkan ke dalam perhiasan,” tulis racked.com.

Pada abad ke-17, jam tangan tidak dikenakan pada bagian anggota tubuh tetapi ditaruh di dalam saku. Namun fungsinya sebagai fesyen masih melekat selain mulai dianggap sebagai investasi, sebagaimana disampaikan oleh Alexis McCrossen, penulis buku Marking Modern Times: A History of Clocks, Watches, and Other Timekeepers in American Life.

“Mereka portabel dan terbuat dari logam mulia. Jika Anda melihat barang-barang yang digadaikan atau dijual hingga tahun 1900, sekitar 30 persen dari barang tersebut adalah jam saku,” kata McCrossen. Persepsi bahwa jam tangan sebagai investasi atau warisan masa depan tetap populer hingga hari ini, meskipun dapat dikatakan nilai jam tangan modern lebih ditentukan oleh merek daripada berat emasnya.

Kesan jam tangan sekadar mode tanpa mengindahkan ketepatan waktu mulai berubah ketika dunia memasuki masa revolusi industri. Saat itu “tepat waktu” menjadi sangat penting, jadwal kereta api tidak mungkin dipahami tanpa jadwal standar, dan peralihan dari tenaga kerja pertanian ke pabrik memperkenalkan konsep pengertian waktu dan pencatatan jam kerja. Ketika waktu menjadi komoditas yang harus diukur dan dikapitalisasi, pabrik mendorong pekerja memaksimalkan hasil mereka dan menerapkan disiplin waktu dengan denda yang keras dan seringkali tidak proporsional bagi siapa saja yang datang terlambat.

Tekanan untuk disiplin waktu dapat dirasakan di seluruh masyarakat pada 1870-an dan 1880-an tetapi, menurut McCrossen, proporsi pemilik jam tangan di tahun-tahun awal revolusi industri tidak meningkat signifikan. Jam, menara jam, dan pemanggil bangun tidur profesional tetap menjadi solusi lebih murah. Laporan kontemporer menunjukkan, dalam beberapa kasus, pekerja hanya menebak waktu sif mereka dimulai berdasarkan suara jalanan.

Pada 1880-an, produsen jam tangan menyadari angka penjualannya tertahan oleh penetapan harga dan mulai mengembangkan model yang lebih murah. Meski demikian ide pembuatan jam tangan menyesuaikan dengan situasi perang yang terjadi saat itu, seperti menggunakan citra patriotik lewat bendera dan tentara untuk memasarkan jam tangan “Yankee”, dan mempublikasikan kisah tentang bagaimana selama perjalanan berburu di Afrika, Theodore Roosevelt disebut sebagai “pria dari negara tempat jam tangan Ingersoll dibuat.”

Pada 1912, The New York Times mendeklarasikan jam tangan gelang sebagai “fashion of the hour” di Paris dan “perhiasan paling berguna yang telah ditemukan.” Pada titik ini, tentara dalam Perang Boer telah mengikat jam tangan ke lengan mereka untuk mengoordinasikan gerakan dan serangan taktis dengan lebih baik, tetapi penerapan militer “jam tangan parit” dalam Perang Dunia adalah yang benar-benar memperkuat kredibilitas macho jam tangan. Dalam artikel yang ditulis Uri Friedman di The Atlantic pada 2015, McCrossen menjelaskan bagaimana Perang Dunia I mengubah jam tangan menjadi aksesori untuk “pahlawan paling modern… penerbang.” Kemudian para produsen mulai merancang jam tangan dengan “janji dapat membuat pria lebih mirip serdadu… [dan] lebih maskulin.” 

“Meskipun fokus dalam periklanan bergeser dari estetika ke efisiensi, pemasaran jam tangan tidak pernah meninggalkan tema kekuatan simbolis dan modernitas. Memiliki jam tangan masih lebih dari sekadar memberi tahu waktu,” tulis Racked.

Pada pertengahan 1980-an, jam tangan mulai berkembang lagi dengan munculnya kalkulator Databank Casio yang dapat menyimpan janji, nama, alamat, dan nomor telepon—semua hal yang mungkin diperlukan oleh orang yang sibuk dan produktif. Asisten digital pribadi atau PDA yang mengikuti jam tangan kalkulator dan reputasi Blackberry yang workaholic-friendly semuanya memainkan ide efisiensi dan ambisi yang membuat jam saku populer dengan “stemwinders” lebih dari satu abad sebelumnya.

Saat ini mulai dikenalkan jam tangan pintar yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan memindahkan notifikasi ke pergelangan tangan, di mana Anda dapat dengan mudah memantaunya tanpa harus menghabiskan waktu di telepon seluler.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button