Juni 2022Peristiwa

Dua Rumah Sakit Kembangkan Robotic Telesurgery

Kementerian Kesehatan terus berupaya melakukan transformasi layanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi modern. Salah satunya, proyek robotic telesurgery yangsedang dikembangkan oleh dua rumah sakit vertikal Kemenkes, yakni Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, dan RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

“Proyek robotik merupakan proyek multitahun yang bertujuan meningkatkan akses layanan dan mutu layanan kesehatan untuk daerah yang tidak terjangkau di Indonesia. Strateginya adalah menggunakan robotic telesurgery sebagai bagian dari program telemedisin,” kata Staf Khusus Menteri Bidang Ketahanan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Prof. Laksono Trisnantoro, sebagaimana dikutip dari rilis Kemenkes pada Sabtu, 25 Juni 2022.

Dengan adanya proyek ini, tindakan operasi di masa depan diharapkan tidak harus menunggu pasien dirujuk terlebih dahulu ke rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi (RS tipe A atau RS Rujukan Nasional) tapi dapat dilakukan dengan operasi bedah jarak jauh.

Seperti dikutip rilis Kemenkes, program robotic telesurgery masih dalam tahap pelatihan dokter bedah dengan Virtual Reality (VR) Simulator Robotic Telesurgery. Selanjutnya kurikulum pelatihan bedah robotik akan tersertifikasi dan terakreditasi, sehingga ke depan diharapkan keahlian bedah robotik direkomendasikan masuk ke dalam kurikulum pendidikan spesialis dokter bedah di Indonesia.

Dokter ahli bedah robotik dari RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS), dr. Reno Rudiman, mengatakan program robotic telesurgery telah berjalan di RSHS sejak 2020. Reno mencontohkan Robotic Sina yang telah melakukan tugas sebagai robot bedah di RSHS dengan melakukan pembedahan menggunakan instrumen modular pada masing-masing tower sehingga pergerakannya lebih fleksibel.

“Instrumen yang digunakan Sina memiliki ukuran 5 mm sehingga luka yang diakibatkan operasi bisa lebih minimally invasive lagi,” tutur Reno.

Menurut Prof. Laksono, proyek robotic telesurgery tidak hanya bernilai ekonomi tapi juga mempunyai nilai edukasi dengan diberikannya akses transfer pengetahuan dan alih teknologi. Ia menyebutkan selanjutnya industri dalam negeri juga dapat memproduksi alat dan suku cadangnya di dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencukupi.

Hal yang sama diucapkan dr. Reno Rudiman. “Apalagi program ini akan alih teknologi di mana instrumennya nanti bisa diproduksi oleh industri dalam negeri,” ujar Reno.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button